Senin, 15 September 2014

Ujian Akhir Semester - Pengantar Pendidikan

SEKOLAH TINGGI ILMU KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
( STKIP – PGRI ) PONTIANAK
Jl. Ampera Kota Baru Pontianak Telp./ Fax : ( 0561 ) 748219 / 6589855


UJIAN AKHIR SEMETER GANJIL T.A 2012/2013

Dosen                                   : Siswandi, M.Pd
Mata Kuliah                        : Pengantar Pendidikan
Semester / Kelas                  : I / A dan B Sore
Hari / Tanggal                     : Senin, 4 Februari 2013
Jumlah Peserta                    : 100 Mahasiswa

Petunjuk mengerjakan soal:

1.      Berdo’alah sebelum memulai suatu pekerjaan !
2.      Isilah identitas mahasiswa dan Mata Kuliah dengan lengkap !
3.      Jawablah soal – soal file-nya dicopy ke CD/Flash Dish
4.      Jawaban boleh dikerjakan mulai dari yang dianggap mudah terlebih dahulu.
5.      Urutkan jawaban UAS sesuai dengan nomor urut Absen/daftar hadir dan masukkan kedalam amplop yang telah disediakan.
6.      Jumlah soal ada 5, dan masing – masing memiliki bobot 20.
7.      Bentuk ujian Take Home.

SOAL – SOAL UJIAN :

1.      Jelaskan pengertian Pendidikan, Fungsi pendidikan dan jenis lingkungan pendidikan, berdasarkan teori yang anda pelajari.

2.      Kemukakan aliran – aliran pendidikan berdasarkan pendapat para ahli

.
3.      Permasalahan pendidikan meliputi apa saja jelaskan contoh kasusnya.

4.      Dalam Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional, no.20 tahun 2003 terdapat XXII Bab dan 77 Pasal, salinlah Undang – Undang tersebut untuk kelas A Sore dan Penjelasan Undang – Undang untuk kelas B Sore. ( cara pengerjaannya dibagi sesuai dengan jumlah mahasiswa dalam satu kelas )


5.      Jelaskan tujuan dari Pendidikan dan arah Pembangunan mental Sumber Daya Manusia Indonesia saat ini.


Jawaban – Jawaban Ujian :
1.      Pengertian Pendidikan, Fungsi Pendidikan, dan Jenis Lingkungan Pendidikan !

Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Fungsi Pendidikan

Fungsi Pendidikan adalah seperangkat sasaran kemana pendidikan itu diarahkan, sasaran yang dicapai melalui pendidikan memiliki ruang lingkup sama dengan fungsi pendidikan. Adapun beberapa fungsi pendidikan yang saya ketahui adalah sebagai berikut :
a.       Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah
b.      Mengembangkan bakat seseorang demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat.
c.       Melestarikan kebudayaan.
d.      Menanamkan keterampilan yang berfungsi bagi partisipasi dalam hidup bermasyarakat.

Jenis Lingkungan Pendidikan

Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengalaman. Pengalaman itu terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial manusia secara efesien dan efektif itulah yang disebut dengan lingkungan pendidikan, khususnya pada tiga lingkungan utama pendidikan yakni keluarga, sekolah dan masyarakat.

Secara umum fungsi pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik, sosial dan budaya), utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal.





2.      Aliran – aliran pendidikan berdasarkan pendapat para ahli !

A.    John Locke ( 1632 – 1704 )
Aliran Empirisme
Aliran empirisme yang dipelopori oleh John Locke, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704 teorinya dikenal dengan Tabula Rasa (meja lilin), yang menyebutkan bahwa anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang bersih yang belum ditulisi. Teori ini secara jelas mengatakan anak sejak lahir tidak mempunyai bakat dan kemampuan. Oleh karena itu, orang tua tidak banyak berpengaruh terhadap perkembangan anak laki-laki dan perempuan. Menurutnya, pengalaman empiris yang dapat membentuk kemampuan anak melalui hubungan dengan lingkungan (sosial, alam,dan budaya). Menurut aliran ini, pendidik berfungsi sebagai faktor luar yang memegang peranan penting dalam membentuk peserta didik, oleh karena itu menurut aliran ini pendidik harus menyediakan lingkungan pedidikan bagi anak, dan anak akan menerima pendidikan sebagai pengalaman sehingga pengalaman yang diperoleh anak tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak sesuai tujuan pendidikan yang diharapkan. Kelemahan aliran ini adalah hanya mementingkan pengalaman, sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dikesampingkan. Padahal, ada anak yang berbakat dan berhasil meskipun lingkungan tidak mendukung. Aliran empirisme mengatakan bahwa pembawaan itu tidak ada, yang dimiliki anak adalah akibat pendidikan baik sifat yang baik maupun sifat yang jelek, jadi perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali ditentukan oleh lingkungan atau dengan pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil, sehingga manusia dapat menjadi apa saja atau menurut kehendak lingkungan atau pendidiknya.
B.     Schopenhauer (1788 – 1880 )
Aliran Navitisme
Tokoh aliran Nativisme adalah Schopenhauer.seorang Filosof Jerman yang hidup pada tahun 1788-1880. Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor–faktor yang dibawa sejak lahir. Faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak laki-laki dan perempuan. Nativisme berpendapat jika anak memiliki bakat jahat dari lahir ia akan menjadi jahat, dan sebaliknya jika anak memiliki bakat baik ia akan menjadi baik. Pendidikan anak yang tidak sesuai dengan bakat yang dibawa tidak akan berguna bagi perkembangan anak itu sendiri. Berdasarkan pandangan ini, keberhasilan pendidikan ditentukan olah anak didik sendiri. Penganut pandangan ini menyatakan bahwa kalau anak mempunyai pembawaan jahat, dia akan menjadi jahat, sebaliknya, kalau anakmembawa pembawaan baik, dia akan menjadi orang baik. Pembawaan buruk dan baik tidak akan diubah dari kekuatan luar. Meskipun dalam kenyataan sehari-sehari, sering ditemukan anak mirip orang tuanya (secara fisik) dan anak juga mewarisi bakat-bakat yang ada pada orang tuanya, tetapi pembawaan itu bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan. Masih banyak faktor yang bisa mempengaruhi perkembangan anak dalam menuju kedewasaannya. Kaum nativisme mengatakan bahwa pendidikan tidak dapat mengubah sifat –sifat pembawaan. Jadi, kalau benar pendapat tersebut percuma kita mendidik karena yang jahat tidak akan menjadi baik.
C.     J.J. Rousseau (1712-1778)
Aliran Naturalisme
Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah naturalisme yang dipelopori oleh J.J. Rousseau (1712-1778) Naturalime mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga naturalisme sering disebut negativisme. Naturalisme memiliki prinsip tentang proses bahwa anak didik belajar melalui pengalaman sendiri. Kemudian terjadi interaksi antara pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan perkembangan di dalam diri secara alami. Pendidik hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik berperan sebagai fasilitator atau narasumber yang menyediakan lingkungan yang mampu mendorong keberaniaan anak didik ke arah pandangan yang positif dan tanggap terhadap kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik. Tanggung jawab belajar tergantung pada diri anak didik sendiri. Program pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan minat dan bakat dengan menyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada pola belajar anak didik.
D.    William Stern ( 1871 – 1939 )
Aliran Konvergensi
Tokoh aliran konvergensi adalah Willian Stern. Ia seorang tokoh pendidikan Jerman yang hidup tahun 1871-1939. Aliran konvergensi merupakan kompromi atau kombinasi dari aliran nativisme dan empirisme. Aliran ini berpendapat bahwa anak lahir di dunia ini telah memiliki bakat baik dan buruk, sedangkan perkembangan anak selanjutnya akan dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi, faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama berperan penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan.Sebagai contoh, hakikat kemampuan anak manusia berbahasa dengan kata-kata, adalah juga hasil konvergensi. Lingkungan pun mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan pembawan bahasanya. Karena itu tiap anak manusia mula-mula menggunakan bahasa lingkungannya, misalnya bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa melayu, atau bahasa Batak, dan lain-lain. Kemampuan dua orang anak (yang tinggal dalam satu lingkungan sama) untuk mempelajari bahasa mungkin tidak sama. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan kuantitas pembawaan dan perbedaan situasi lingkungan, meskipun lingkungan kedua anak tersebut menggunakan bahasa yang sama. William Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan. Karena itu, teori W. Stern disebut teori konvergensi (konvergen artinya memusat ke satu titik). Menurut teori konvergensi ada tiga prinsip: (1) pendidikan mungkin untuk dilaksanakan,(2) pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik, dan (3) yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia. Meskipun demikian terdapat variasi pendapat tentang faktor-faktor mana yang paling pentingdalam menentukan tumbuh kembang itu.
E.     John Dewey ( 1859 – 1952 )
Aliran Progresivisme
Tokoh aliran Progresivisme adalah John Dewey. Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan, ataupun masalah-masalah yang bersifat mengancam dirinya. Aliran ini memandang bahwa peserta didik mempunyai akal dan kecerdasan. Hal itu ditunjukkan dengan fakta bahwa manusia mempunyai kelebihan jika dibanding makhluk lain. Manusia memiliki sifat dinamis dan kreatif yang didukung oleh kecerdasannya sebagai bekal menghadapi dan memecahkan masalah. Peningkatan kecerdasan menjadi tugas utama pendidik, yang secara teori mengerti karakter peserta didiknya.Peserta didik tidak hanya dipandang sebagai kesatuan jasmani dan rohani, namun juga termanifestasikan di dalam tingkah laku dan perbuatan yang berada dalam pengalamannya. Jasmani dan rohani, terutama kecerdasan, perlu dioptimalkan. Artinya, peserta didik diberi kesempatan untuk bebas dan sebanyak mungkin mengambil bagian dalam kejadian-kejadian yang berlangsung disekitarnya, sehingga suasana belajar timbul di dalam maupun di luar sekolah.
F.      Giambatista Vico ( 1668 – 1744 ) & Jean Piaget ( 1896 – 1980 )
Aliran Konstruktivisme
Gagasan pokok aliran ini diawali oleh Giambatista Vico, seorang epistemiolog Italia. Ia dipandang sebagai cikal bakal lahirnya konstruktivisme. Ia mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan Mengerti berarti mengetahui sesuatu jika ia mengetahui. Hanya Tuhan yang dapat mengetahui segala sesuatu karena Dia Pencipta segala sesuatu itu. Manusia hanya dapat mengetahui sesuatu yang dikonstruksikan Tuhan. Bagi Vico, pengetahuan dapat menunjuk pada struktur konsep yang dibentuk. Pengetahuan tidak bisa lepas dari subjek yang mengetahui. Aliran ini dikembangkan oleh Jean Piaget. Melalui teori perkembangan kognitif, Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan interaksi continue antara individu satu dengan lingkungannya. Pengetahuan merupakan suatu proses, bukan suatu barang. Menurut Piaget, mengerti adalah proses adaptasi intelektual antara pengalaman dan ide baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, sehingga dapat terbentuk pengertian baru.Piaget juga berpendapat bahwa perkembangan kognitif dipengaruhi oleh tiga proses dasar, yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Asimilasi adalah perpaduan data baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif terhadap situasi baru, dan ekuilibrasi adalah penyesuaian kembali yang secara terus menerus dilakukan antara asimilasi dan akomodasiAliran Kontruktivisme ini menegaskan bahwa pengetahuan mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam diri sesorang, melalui pengalaman yang diterima lewat pencaindra, yaitu penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman, dan perasa. Dengan demikian, aliran ini menolak adanya transfer pengetahuan yang dilakukan dari seseorang kepada orang lain, dengan alasan pengetahuan bukan barang yang bisa dipindahkan, sehingga jika pembelajaran ditujukan untuk mentransfer ilmu, perbuatan itu akan sia-sia saja. Sebaliknya, kondisi ini akan berbeda jika pembelajaran ini ditujukan untuk menggali pengalaman.

3.      Permasalahan pendidikan adalah :

A.    Masalah Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Masalah ini muncul karena rendahnya kualitas pendidik, khususnya di daerah terpencil yang kekurangan tenaga pendidik. Untuk menutupi kekurangan tenaga pendidik tersebut, banyak sekolah yang merekrut tenaga pendidik yang hanya berlatar belakang SMA atau sederajat. Selain itu, kurangnya sarana dan prasarana penunjang pembelajaran juga menjadi penyebab randahnya mutu pendidikan di Indonesia. Contoh : guru yang direkrut untuk menutupi kekurangan guru berlatar belakang SMA / Sederajat sedangkan yang diajar adalah siswa & siswi Sekolah Menengah Atas.
B.     Masalah Relavansi Pendidikan
Masalah relevansi pendidikan muncul karena, jumlah pendidik yang dihasilkan lembaga pendidikan untuk bidang tertentu jumlahnya lebih besar daripada tenaga yang dibutuhkan. Sedangkan untuk bidang lainnya, pendidik yang dihasilkan kurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini menyebabkan tidak relevannya jumlah pendidik di lapangan, sehingga banyak pendidik yang mengajar di bidang yang bukan keahliannya. Contohnya : guru yang berlatar belakang pendidikan olah raga mengajar pelajaran pendidikan sejarah, karena kurangnya tenaga pengajar.
C.     Mahalnya Biaya Pendidikan
Tidak dapat dipungkiri, sekarang ini pendidikan yang berkualitas adalah hal yang sangat sulit didapatkan. Pendidikan yang berkualitas juga hanya bisa didapatkan oleh orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan finansial yang baik, hal ini dikarenakan untuk mendapat pendidikan yang berkualitas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga sekarang ini ada istilah “pendidikan yang berkualitas itu mahal”, “pendidikan yang berkualitas hanya untuk orang-orang kaya”. Hal ini sungguh sangat ironis sekali, padahal banyak sekali anak-anak berprestasi dan anak-anak yang memiliki kecerdasan tinggi di Indonesia, tapi mereka hanya menjadi buruh di pabrik, karena tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan pendidikan. Contohnya : sekolah berstandar internasional ( SBI ) yang seharusnya diperuntukkan untuk siswa berprestasi justru biaya pendidikannya sangat mahal, sehingga bukan siswa berprestasi yang bersekolah di sekolah tersebut, melainkan siswa – siswa yang memiliki tingkat ekonomi tinggi .


D.    Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru seperti menjadi masalah klasik dalam dunia pendidikan di Indonesia. Bagaimana tidak, di saat para birokrat dan pejabat menerima pendapatan yang tinggi, para guru menerima pendapatan yang boleh dibilang “sekedarnya” saja. Sehingga apabila seorang guru mempunyai profesi lain di luar bidangnya, sudah menjadi hal yang biasa di negeri ini. Memang sekarang ini sudah ada sertifikasi, yang membuat para guru dibayar dengan “pantas”. Tetapi tidak semua guru bisa mendapatkan hal tersebut, proses yang rumit dan terkesan dipersulit, membuat banyak guru yang belum menerima pendapatan yang sesuai dengan apa yang sudah diberikannya. Belum lagi nasib para guru bantu dan guru honorer, yang bahkan penghasilannya sangat jauh dari kata “pantas”. Contohnya : Minimnya gaji-gaji guru khususnya di daerah-daerah terpencil, sehingga banyak guru yang mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhannya, jadi tidak fokus mengajar disekolah.

4.      Dalam Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional, no.20 tahun 2003 terdapat XXII Bab dan 77 Pasal. Di dalam UUPN no.20 tahun 2003, didalam pasal 4 ayat 2 yang berbunyi “ Pendidikan dengan sistem terbuka adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas kesatuan dan jalur pendidikan ( multi entry- multi exit system ). Peserta didik dapat belajar sambil bekerja dan mengambil program – program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. Pendidikan multimakna adalah proses pendidikan yang diselenggarakan dengan berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan watak dan kepribadian, serta berbagai kecakapan hidup.

Penjelasan
Didalam pasal 4 ayat 2 ini, dijelaskan bahwa pemerintah melaksanakan program pendidikan yang fleksibel bagi mereka yang bekerja atau memliki kegiatan lain di waktu-waktu saat pendidikan seharusnya berlangsung. Program ini biasanya dilaksanakan pada perguruan tinggi yaitu dengan perkuliahan malam ataupun perkuliahan yang dilakukan pada saat week end ( sabtu – minggu ). Dimana dalam pelaksanaan program ini perkuliahan bisa dilakukan secara tatap muka atau jarak jauh, sehingga peserta didik yang bekerja tetap dapat melaksanakan pendidikannya.


5.      Tujuan Pendidikan dan arah Pembangunan mental Sumber Daya Manusia Indonesia saat ini !
Tujuan Pendidikan Indonesia Saat Ini
Di dalam kurikulum yang sedang digunakan Indonesia saat ini, yaitu KTSP sekolah menjadi penyelenggara pendidikan yang berhak dalam menentukan sendiri indikator bagi setiap kompetisi dari semua mata pelajaran, dan sistem KTSP ini sudah di atur dalam UU dan beberapa ketetapan MPR, diatantaranya sebagai berikut :
Tujuan pendidikan di Indonesia saat ini adalah seperti yang sudah diatur dalam dalam UU No.2 tahun 1985 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.
Adapun ketetapan MPR tentang tujuan pendidikan Indonesia adalah sebagai berikut : menurut TAP MPR NO II/MPR/1993 yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif , terampil, disiplin, beretos kerja profesional serta sehat jasmani dan rohani.
Pendidikan Nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa pahlawan, serta berorientasi masa depan.
Serta menurut TAP MPR No.4/MPR/1975, tujuan pendidikan  Indonesia saat ini adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945, BAB II ( pasal 2,3, dan 4 ).
            Tujuan Pembangunan Mental SDM Indonesia
Berdasarkan tujuan pendidikan indonesia, sudah jelas dijelaskan bahwa tujuan pembangunan Indonesia adalah pembangunan yang diperuntukkan sebagai dasar pembentuk mental yang bermoral, berpendidikan, beriman dan takwa kepada Tuhan Yang Masa Esa.
Pada umumnya, tujuan pembangunan mental SDM Indonesia ialah pembangunan karagter yang berdasarkan Pancasila untuk menjadi bangsa yang mandiri di era globalisasi, jadi dapat di simpulkan bahwa pembangunan mental SDM Indonesia lebih berfokus kepada peningkatan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki karagter sesuai dengan nilai – nilai dasar pancasila. Pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat bersatu untuk terus berusaha membangun karakter bangsa Indonesia terutama pada generasi muda agar Indonesia menjadi bangsa yang mandiri pada era Globalisasi sekarang ini.

                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar