Senin, 15 September 2014

Makalah Asia Barat Baru

Irak Kekuatan Bari di Timur Tengah
            Setahun setelah Saddam Hussein berkuasa sebagai Presiden Irak, kiranya bermanfaat untuk membuat satu neraca sementara dari hasil-hasil maupun kegagalan-kegagalan negarawan yang pragmatis, ambisius, agresif dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan ini yang memimpin suatu negara yang memiliki potensi ekonomi, militer dan tenaga ahli serta kedudukan strategis seperti Irak.
            Premis dasar kira dalam membahas kedudukan Irak setahun setelah Saddam Hussein berkuasa ialah bahwa terdapat kaitan jelas antara kejadian-kejadian dalam negeri dan politik luar negeri Irak. Bukan saja kenyataan bahwa sumber-sumber daya Irak memungkinkannya mengembangkan politik luar negeri yang ambisius dan dinamis, tetapi juga kenyataan bahwa dia harus menghadapi serangkaian masalah politik dan kemanan yang segi-segi intern dan eksternnya berkaitan satu sama lain.
A.      Keadaan Dalam Negeri
            Perkembangan-perkembangan dalam negeri Irak mempunyai bermacam-macam cirri yang tidak selalu baru. Di bawah ini kita akan berusaha menguraikan cirri-ciri yang paling menonjol dalam periode Saddam Hussein menjabat sebagai Presiden.
a.        Kegiatan Oposisi
Kegiatan oposisi berbagai unsu berulang kali meningkat, lebih sering daripada masa lampau. Unsur-unsur itu dapat dibagi dalam dua kategori: pusat-pusat oposisi tradisional di luar pemerintahan – umat Shia, suku Kurdi dan kaum Komunis – dan unsure-unsur oposisi atau semi oposisi dalam kelompok yang berkuasa – unsur-unsur dalam angkatan bersenjata yang menantang kepemimpinan Presiden yang untuk pertama kalinya selama 22 tahun tidak berasal dari tentara, dan unsur-unsur dalam Partai Baath dan dalam sektor sipil dimana tampak tanda-tanda pembangkangan.
Selama tahun 1979 pergolakan diantara golongan Shia yang merupakan 50-60% penduduk Irak sebanyak 13 juta rupanya meningkat. Faktor permanen oposisi Shia Irak diperkuat oleh suatu faktor lain yang membakar, yaitu Revolusi Khomeini di Iran yang memberikan segala bantuan yang mungkin kepada kelompok-kelompok bawah tanah di antara umat Shia Irak. Ini adalah akibat cara-cara represif rezim dan kurangnya koordinasi di antara kelompok-kelompok Shia. Parta Daawa yang didukung Iran adalah yang paling menonjol. Pada waktu yang sama, rezim Irak seperti semua Tiran, memberikan isyarat-isyarat konsiliatori, berjanji akan memperbaiki taraf hidup golongan Shia, dan berusaha mengambil hati kepala-kepala suku Shia dengan membagikan hadiah dan lain-lain bujukan.
Menyusul beberapa tahun ketenangan di Kurdisun Irak, kegiatan kurdi muncul kembali, biarpun terbatas, akibat dorongan Iran di bawah Khomeini. Secara formal, orang-orang Kurdi yang merupakan 18% penduduk masih merupakan anggota dalam Front Nasional Progresif, suatu aliansi dimana Partai Baath mempunyai suatu mayoritas yang sangat besar. Implementasi otonomi Kurdi berjalan terus dan pemilihan dewan otonomi Kurdi diharapkan. Akan tetapi dua faksi, yaitu faksi Barazani ( Partai Demokrasi Kurdi ) dan faksi Tabalani ( Persatuan Nasional ) aktif di daerah perbatasan Iran-Iran. Keduanya beroperasi dari wilayah Iran dan faksi Tabalani menerima bantuan dari Suriah. Kegiatan kurdi di Eropa Barat, berlangsung seperti biasa, dengan suatu inovasi, yaitu kerja sama dengan orang komunis Irak dalam pengasingan. Pendek kata, masalah Kurdi tetap merupakan suatu faktor ketidakstabilan rezim Irak, dan sepertiga tentara Irak ditempatkan di Kurdistan atau dekatnya untuk menghadapi setiap perkembangan negative.
Hubungan golongan komunis dengan rezim Baath di Bagdad adalah suatu krisis permanen yang manifestasi-manifestasinya berubah-ubah sesuai denga keadaan. Menyusul tindakan-tindakan yang keras ( digantungnya 21 orang aktivis ) pada musim semi tahun 1978 dan meningkatnya pengawasan atas kegiatan pemimpin-pemimpin partai, mereka ini menyadari kedudukan mereka yang lebih lemah dalam pertarungan dan memutuskan ke luar dari kerja sama resmi dengan Partai Baath dan bergerak di bawah tanah ( Mei 1979 ). Kegiatan partai resmi dibekukan sama sekali. Pemimpin-pemimpin dan para aktivis di tamping di Eropa timur dan Yaman Selatan dengan bantuan Uni Soviet. Karena partai bergerak di bawah tanah, maka sulit untuk pemerintah mengawasinya dan rupanya itu hal mendorong rezim untuk megajak para aktivis partai membuka kembali dialog dan muncul dari bawah tanah.
Sepanjang tahun dalam pembahasan ini ada laporan-laporan mengenai adanya ketidakpuasan di kalangan para perwira professional. Perwira-perwira senior, atau sementara di antaramereka, sudah kurang puas dengan Saddam Hussein ketika dia Wakil Presiden Bakr, tetapi pada waktu itu rasa hormat mereka untuk presiden melunakkan sikap mereka. Pengunduran diri atau penyingkirannya pada bulan juli 1979 rupanya membangkitkan kembali permusuhan yang laten terhadap presiden yang baru. Pada bulan-bulan pertama perwira pemerintahannya, presiden baru itu memindahkan hamper 2.000 perwira dan bintara, rupanya sebagai tindakan pengamanan. Dia juga memerintahkan agar setian orang yang dicurigai tidak loyal terhadap Partai Baath dipensiunkan, dan lebih banyak lagi ditempatkan dibawah pengawasan yang terus menerus. Dengan demikian tidaklah mengherankan bahwa perwira-perwira Irak meninggalkan Irak ( misalnya ke Iran pada bulan September 1979 ).
Ada alasan untuk berpendapat bahwa kepemimpinan politik yang tampaknya kohesif tidak mengungkapkan keadaan dalam negeri. Dalam tahun pertamanya sebagai Presiden, Saddam Hussein mengambil serangkaian langkah yang menunjukkan adanya persaingan dan bahkan mungkin perebutan kekuasaan dalam tubuh pimpinan. Misalnya pengangkatan Izzat Ibrahim Al-Douri, pemuji presiden dan seorang tanpa warna, sebagai wakil presiden untuk memblokir orang-orang yang berkuasa seperti Taha Yassin Ramadhan, Wakil Perdana Menteri I, dan Saadam Ghaidan, seorang bekas jenderal dan sekarang Menteri Perhubungan. Ramadhan kini dilukiskan sebagai orang kuat di Irak setelah Saddam Hussein. Dia mempunyai basis kekuatan dan pengaruhnya sendiri dan kedudukannya di dalam partai adalah kuat.
Penangkapan beberapa orang partai tak lama setelah Saddah Hussein menjadi presiden mungkin merupakan suatu petunjuk besarnya ketidakstabilan dalam tubuh partai selama 1979. Diantara mereka yang ditangkap adalah Dr. Munif Al-Razaz, seorang Sunni keturunan Yordania yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Komando Nasional. Pada musim dingin tahun 1979/1980 diketahui bahwa pejabat-pejabat tinggi pemerintahan dipenjarakan dan dijatuhi hukuman mati. Selama tahun 1979 juga ada laporan-laporan mengenai penangkapan aktivis-aktivis menyusul kegiatan-kegiatan seperti penyebaran selebaran atas nama “kaum independen dari Partai Baath”.
b.        Gaya Operasi Rezim
Khususnya dapat dicatat sentralisasi dan sifat kekerasan rezim presidensial, yang menganut politik suatu negara polisi. Biarpun media massa memuat sedikit informasi mengenai hal-hal tahun pertama Saddam Hussein sebagai presiden rupanya tahun pencekikkan politik di Irak. Tahun itu merupakan tahun keresahan dimana tangan bersi presiden lebih brutal daripada waktu sebelumnya dan sudah mulai terasa pada hari-hari pertama Presiden Saddam Hussein ketika pejabat-pejabat partai dan pemerintah dijatuhi hukuman mati. Kekerasan Brutal adalah bagian politik Saddam Hussein. Di bandingkan dengan pendahulunya Presiden Bakr, dapat dikatakan bahwa kepemimpinan Saddam Hussein tidak mempunyai akibat pemantapan kehidupan politik karena kepribadian, gaya operasi, motif-motif, impuls-impuls dan ambisi-ambisinya. Kenyataaannya ada kesan bahwa dia gagal memperluas basis kekuatannya.
c.         Usaha Memperbaiki Citra Saddam Hussein
Selama enam bulan kedua kepresidenannya, setelah berhasil memperkuat kedudukannya dan mengatasi ancaman-ancaman terhadapnya, Saddam Hussein memalingkan perhatiannya untuk mengakan kontak langsung dengan rakyat untuk memperkuat kepercayaan umum akan rezimnya dan memperbaiki citranya yang bernoda. Maka disamping menunjukkan suatu tangan besi dia mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki nasib orang-orang dan masyarakat sebagai keseluruhan dengan meningkatkan gaji pegawai negeri sipil dan militer, memperbaiki keadaan pangan di kota-kota, menggalakkan perdagangan swasta, menindak kaum birokrat yang membuat rakyat menderita, secara pribadi mendengarkan keluhan-keluhan orang-orang, dan menunjukkan toleransi dan secara positif menyebutkan Islam dan tradisi, dan seterusnya. Media massa Irak secara luar meberitakan kegiatan Saddam Hussein dan usaha-usaha yang dilakukan pemerintah seperti pemberantasan buta huruf, membuka peluang-peluang ekonomi, sosial dan politik bagi kaum wanita Irak. Mengakan pemilihan parlemen ( Majelis Nasional ) yang didak diadakan selama satu generasi, dan lain sebagainya.
d.        Build-Up Militer
Di bawah Saddam Hussein Build-up Militer berlangsung terus, antara lain sebagai sarana untuk mencapai sasaran-sasaran politik di kawasan, di Dunia Arab dan di Dunia Ketiga. Unsur-unsur yang menonjol dari build-up militer adalah berlanjutnya pembelian perlengkapan militer secara besar-besaran di Timur dan Barat, dan pembentukan kerangka-kerangka yang disertai usaha-usaha untuk mengatasi masalah-masalah tenaga ahli dan memperbaiki kemampuan tentara untuk beroperasi dekan maupun jauh dari Irak ( tentara Ekspedisi ke “Front Timur” melawan Israel, peningkatan Angkatan Laut).
Yang menyolok dari build-up militer tahun 1979 adalah tambahan 100 pesawat pemburu ( Sehingga seluruhnya berjumlah 550 ), tambahan 500 tank (menjadi 3.000), diperkuatnya satuan-satuan anti tank yang mobil ( udara dan darat ), peningkatan mobilitas Angkatan Darat. Transaksi Mirage F-1 belum termasuk karena implementasinya baru saja mulai.Pembentukan suatu SAM tingkat brigade pada H-3 telah selesai. Satuan ini meliputi 7 batterij SA-2/3 dan satu brigade SA-6 yang mobil. Dilapangan terbang H-3 ditempatkan suatu skuadron Mig-23 dan 8 Mig-21.
Buid-up militer itu juga meliputi Tentara Rakyat yang sering disebut Tentara Partai yang tugas pokoknya ialah melindungi rezim. Tentara rakyat ini meliputi dinas pra-militer dan berjumlah sekitar 150.000 orang.
e.         Pembangunan Ekonomi
Salah satu kebijakan Saddam Hussein selama tahun 1979 adalah memperkuat perekonomian Irak. Kebijaksanaan ekonomi dalam negeri Irak bercirikan usaha untuk mempernbaiki taraf hidup kelas-kelas rendah, termasuk golongan Shia. Produksi minyaknya meningkat, pada tahun 1979 rata-rata adalah 3,7 juta barrel per hari. Dengan demikian Irak adalah penghasil minyak kedua terbesar setelah Arab Saudi.
Pendapatan minyak pada tahun 1979 sebesar US$ 20 milyar digunakan untuk mengembangkan industry minyak pabrik-pabrik kilang, pabrik-pabrik petrokimia dan pupuk. Banyak diantaranya menggunakan gas alam, hasil sampingan minyak. Proyek-proyek ini dan proyek-proyek lain dibangun dengan kerja sama perusahaan-perusahaan Barat yang meningkat, terutama perusahan-perusahan Jepang, Perancis, dan Italia.
            Perdagangan dengan Barat berkembang lebih cepat daripada perdangan dengan Uni Soviet dan Eropa Timur. Irak juga menandatangani banyak kontrak dengan negara-negara Dunia ketiga. Persetujuan-persetujuan ini meliputi pinjaman-pinjaman yang disubsidi yang tidak sepenuhnya mengganti kerugian akibat meningkatnya harga minyak.
B.       Politik Luar Negeri
Saddam Hussein merupakan suatu penganut politik luar negeri pragmatis yang memperjuangkan sasaran-sasaran Nasional sesuai dengan urut-urutan prioritas yang ditentukannya sendiri. Bagdad dibawah Saddam Hussein bukan lagi ibukota suatu negara yang terpencil. Bagdad mendapat kedudukan kunci di Dunia Ketiga.
a.        Antar Arab
Konfrontasi Irak dengan Iran dilukiskan sebagai usaha untuk mencegah revolusi Iran meluas ke Dunia Arab. Biarpun kebanyakan alasan bagi konfrontasi ini menyangkut hubungan antara kedua negara itu, Bagdad berhasil mendapat dukungan politik sekelompok negara konservatif, termasuk Arab Saudi, Yordania dan Emirat-Emirat Teluk.
Usaha untuk mencapai suatu hegemoni di kawasan Teluk dengan alasan-alasan militer, ekonomi dan politik menyusul jatuhnya rezim Shah Iran jelas terungkap dalam gerak-gerak Irak sepanjang 1979. Irak berusaha membangun suatu kehadiran disemua forum Teluk dan apabila dilakukan usaha untuk mengabaikan ambisi ini misalnya pada Konferensi Menteri Luar Negeri Teluk di Taif pada musim gugur 1979, Irak mengambil langkah-langkah untuk menjamin hal itu tidak terulang lagi.
Pengembangan hubungannya dengan negara-negara Arab konservatif bagi Irak merupakan semacam suatu pendalaman politik yang semakin jelas terungkat dalam munculnya koalisi segitiga Irak-Yordania-Arab Saudi. Masing-masing dari ketiga negara itu memiliki perbatasan bersama dengan kedua negara lainnya.
Mengingat apa yang dikemukana di atas, tidaklah mengherankan bahwa Irak relative mudah berhasil menduduki tempat sentral di Dunia Arab setelah Mesir dipencilkan. Pertemuan Puncak Tunis ( Musim Gugur 1979 ) dan Pertemuan Menteri-menteri Luar Negeri dan Ekonomi di Amman ( Juli 1980 ) mengukuhkan keberhasilan Irak menarik garis politik dan ekonomi bagi kebanyakan negara Arab. Hasil-hasilnya bahkan lebih menyolok kalau dibandingkan dengan hasil-hasil “Front Keteguhan” yang bertemu di Tripoli pada musim semi 1980, menyusul keretakan yang terjadi pada waktu Konferensi Para Menteri Luar Negeri Islam di Islamabad (Januari 1980) keretakan yang untuk sebagian adalah akibat keputusan Irak untuk ikut serta dalam konferensi ini yang mempunyai watak anti Uni Soviet ketika direncanakan. Perasaan Bagdad memiliki kekuatan yang semakin besar membawa ke usul untuk menerima Piagam Nasional ( 8 Desember 1979 ), yang dalam kenyataan merupakan usaha pribadi Saddam Hussein untuk memaksakan suatu Doktrin Non-Blok Arab dan memperlemah hubungan negara-negara Arab dengan blok-blok global. Bagaimanapun tahun 1979 menunjukkan bahwa adalah koalisi pimpinan Bagdad yang memberikan kepemimpinan politik di Dunia Arabm dan bukan “ front keteguhan “ pimpinan Suriah tidak dapat mengandalkan dukungan penuh Aljazair, PLO atau bahkan Yaman Selatan.
b.        Internasional
Semakin kuatnya kedudukan antar Arabnya, potensi ekonominya dan kedudukannya dalam OPEC meningkatkan arti penting Irak di mata Barat, Timur, dan Dunia Ketiga.
Hubungannya dengan Barat, terutama Eropa Barat, dilihat oleh Irak sebagai pengumpil ( lever ) ekonomi maupun politik. Sepanjang tahun 1979 Irak berhasil meningkatkan hubungannya dengan Italia, Jerman, Jepang, Spanyol, Skandinavia dan khususnya dengan Perancis. Lebih dari 75% impor Irak berasal dari Eropa Barat dan Jepang ( perlengkapan militer, teknologi industry, knowhow nuklir dan seterusnya ).
Sepanjang tahun 1979 hubungan Irak-Uni Soviet yang mulai memburuk pada pertengahan tahun 1978, tetap dingin, biarpun menjelang akhir tahun pertama Saddam Hussein sebagai Presiden ada sedikit perbaikan.
Alasan-alasam Nasional yang berkaitan dengan perkembangan antar Arab dan regional membuat Irak menjauhkan diri dari Uni Soviet. Berbagai unsur Barat, jurubicara-jurubicara kementrian luar negeri dan media massa di belakang mereka membuat pernyataan-pernyataan jangkauan jauh mengenai usaha Irak untuk melepaskan diri dari Moskow.
Irak kelihatan ingin membatasi perselisihannya dengan Uni Soviet untuk menghindari resiko-resiko yang tak perlu, mendapatkan sebanyak mungkin dari Uni Soviet dan pada waktu yang sama mempertahankan kebebasan bertindak.
Tahun pertama Saddam Hussein sebagai presiden Irak adalah tahun kegiatan intensif dalam gerakan Non-Blok. Irak adalah aktif pada Pertemuan Puncak di Kuba (1979) dan berkat meningkatnya kedudukannya diberi privilesi untuk menjadi tuan rumah Pertemuan Puncak tahun 1982. Kegiatan Irak di antara negara-negara Non-Blok mempunyai dua tujuan : kemanan nasional, yaitu mencegah kawasan geostrategisnya diubah menjadi kawasan konfrontasi superpower, dan tujuan politik yaitu memperkuat kedudukannya di Asia, Afrika dan Amerika Latin lewat bantuan, pinjaman yang di subsidi dan berbagai hibah.
Sepanjang 1979 terjadi peningkatan besar dalam bantuan keuangan, militer dan teknis yang diberikan Irak kepada banyak Negara Afrika. Sebagian bantuan ini dikombinasikan dengan transaksi-transaksi senjata dengan Uni Soviet. Antara lain diketahui pada bulan Februari 1980 bahwa perlengkapan militer Uni Soviet lama dikrimkan lewat udara dari Irak ke Zambia via Zaire. Sebagai imbalan perlengkapan lama ini, Irak mendapat perlengkapan baru dari Uni Soviet.
Puluhan pejabat tinggi dari seluruh dunia, termasuk presiden, perdana menteri, menteri dan kepala staf, telah mengunjungi Irak untuk mendapatkan bagian kekayaannya. Sebaliknya pemimpin-pemimpin Irak jarang meninggalkan Irak dan hamper selalu hanya untuk mengunjungi Arab Saudi. Satu-satunya kesempatan Saddam Hussein mengunjungi suatu ibukota du luar Dunia Arab sebagai presiden adalah ketia dia menghadiri upacara pemakaman pendiri terakhir negara Non-Blok, Marsekal Tito dari Yugoslavia.
c.         Sengketa Arab-Israel
Sengketa Arab-Israel tidak menempati prioritas tinggi dalam tahun pertama Saddam Hussein sebagai presiden. Pada tahap ini Israel tidak merupakan suatu medan tempur bagi Irak. Paling banyak Israel adalah sebuah alat untuk memperkuat kepemimpinan Irak di Dunia Arab. Dalam konsep Irak seperti diutarakan oleh seorang jurubicara Israel yang berwibawa, tiada ruang untuk membicarakan suatu alternatif politik bagi persetujuan Camp David selama Israel memiliki keunggulan militer terhadap negara-negara Arab berkat bantuan Amerika Serikat. Maksud Irak adalah secara simultan bergerak ke dua arah, pertama, membangun kekuatan militer dan teknologi termasuk kekuatan nuklir, dan kedua, melancarkan sautu ofensif politik untuk merongrong ikatan-ikatan Israel dengan Eropa dan mengendorkan komitmen Amerika terhadap Israel lewat suatu Eropa yang tunduk pada tekanan-tekanan Arab.
Sesuai dengan itu Irak menyambut baik pernyataan kesembilan negara di Venesia sebagai suatu langkah kea rah yang tepat biarpun tidak cukup. Irak mengakui bahwa dewasa ini negara-negara Arab tidak mampu mengalahkan Israel dan oleh sebab itu mengakui kenyataan-kenyataan dan menyetujui dibentuknya suatu Negara Palestina di “bagian Palestina manapun yang dibebaskan dari kependudukan Israel”, sambil melakukan persiapan-persiapan untuk tahap dimana negara-negara Arab akan memiliki keunggulan militer tehadap Israel. Sikap ini yang untuk pertama kalinya dinyatakan bulan juni 1980, merupakan suatu pergeseran dalam politik Irak yang menentang didirikannya suatu Negara Palestina di samping Israel, bahkan dengan alasan-alasan taktispun.
Selaras dengan garis itu, Irak secara konsisten tidak mau terlibat dalam segala gerak yang bisa membawanya berhadapan dengan Israel sebelum siap. Ketika ketegangan antara Suriah dan Israel meningkat tahun 1980, menyusul perpindahan pasukan-pasukan di Libanon, Irak tidak menyatakan mendukung Suriah, jangankan bersedia membantu Suriah apabila terjadi konfrontasi dengan Israel.

Irak tetap menolak eksistensi Israel yang disebutkan sebagai “ Eksistensi Zionis “ oleh Saddam Hussein dalam pidatonya tanggal 8 Fenruari 1980 ketia dia mengajukan usul Piagam Nasional. Irak menolak Resolusi Dewan Keamanan 242, mendukung aksi-aksi teroris melawan Israel dan bahkan terlibat ( misalnya dalam serangan terhadap Misgav Am bulan April 1980 ), dan mengenakan tekanan-tekanan ekonomi atas negara-negara Barat dan Dunia Ketiga agar menerima asas-asas padangan Arab dan merugikan Israel, misalnya sehubungan dengan soal pemulihan hubungan diplomasi antara negara-negara Afrika dan Israel. Irak adalah ujung tombak perang politik pada lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi Internasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar