Senin, 15 September 2014

Makalah Tentang Arab Sebelum Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Manusia merupakan mahluk sosial yang membutuhkan manusia lainnya untuk bisa hidup di dunia ini. Manusia juga membutuhkan nilai dan norma di dalam hidunya, agar hidupnya bisa berjalan dengan baik dan sempurna. Semua itu diatur dalam sebuah aturan nilai dan norma yang disebut dengan agama. Semua aturan dii atur dalam nilai dan norma di dalam agama. Di dunia saat ini banyak sekali agama yang telah berkembang dari masa ke masa yakni agama Islam, budha, Kristen, Katolik, Protestan, dan masih banyak lagi. Perkembangan agaama di suatu daerah juga mempunyai sejarahnya masing-masing, yang mempengaruhi Masyarakat itu sendiri.
Salah satunyaDi asia barat yaang terkenal dengan agama islam yang telah tercatatdi dalam sejarah. Islam adalah agama atau kepercayaan yang lahir di kota mekah yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW, yang mana islam pada masa itu meluruskan dari moral manusia khususnya masyarakat Arab yang mana pada masa itu masih dalam kaadaan kegelapan atau masa jahiliyah. Sehingga Allah SWT mengutus seorang rasul terakhir untuk meluruskan moral manusia yang telah hancur pada saat itu.
Di jaman jahiliayah ini banyak sekali kebodohan yang telah dilakukan oleh Bangsa Arab pada masa itu seperti berjinah, judi, dan membunuh. Lantas seperti apa kehidupaan Masyarakat Arab Pra-Islam, baik itu dalam segi Politik, agama Dan Kebudayaan, Manusia saat itu benar-benar dalam kebodohan yang sangat akan ucapan-ucapan yang mereka sangka baik padahal bukan, serta amalan yang disangka baik padahal rusak. Paling mahirnya mereka adalah yang mendapat ilmu dari warisan para Nabi terdahulu namun telah samar bagi mereka antara haq dan batil. Atau yang sibuk dengan sedikit amalan meski kebanyakannnya mengamalkan bid’ah yang dibuat-buat. Walhasil, kebatilannya berlipat-lipat kali dari kebenarannya
B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagi berikut:
1.      Seperti apa Arab sebelum Islam?
2.      Apa yang dimaksud dengan Jahiliyah?
3.      Siapa  jahiliah itu?
4.      Seperti apa ciri-ciri Jahiliah itu?
5.      Seperti apa peradapan Pra-Islam?

C.     TUJUAN PENUISAN
Berdasarkan perumusan masalah di atas, karya tulis ini bertujuan untuk  menambah wawasan bagi para pembacanya. Namun secara umum karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk:
1.      Memenuhi tugas Mata quliah Sejaarah Asia Barat Lama yakni tetang Masyarakat Arab Pada Masa jahiliah.
2.      Mengetahui kehidupan Masyarakat Arab Pra-islam.
3.      Mengetahui dan mengkaji pengertian dan devinisi Jahiliyah.
4.      Mempelajari peradapan Arab Pra-Islam.
5.      Menjadi patokan teman-teman mahasiswa sejarah kelas A Pagi dalam belajaar pembelajaran sejarah Asia Baraat Lama, khususnya tentang kehidupan Masyarakat Arab Pada Masa Jahiliah.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    ARAB SEBELUM ISLAM
Mekah merupakan kota yang sangat penting di negeri Arab, baik dari kawaasannya, tradisinya, maupun letaknya. Yang mana kota ini merupakan jalur perdagangan yang menghubungkan Yaman di selatan dan Sriyah diutara. Ditambah lagi dengan adanya kakbah ditengah kota makadari itulah mekah merupakan pusat sentra keagamaan “sebelum islam”  sebagai tempat untuk berjiarah, di mana di dalam kakbah pada masa sebelum islam terdapat 360 berhala yang terletak mengelilingi berhala utama yaitu berhala Hubal yang berada di dalam kakbah. Mekak kelihatan makmur dan kuat yang mana pada masa ini masyarakat arab mencerminkan kesukuan dengan luas Jajirah Arab satu juta mil persegi.
 Jajirah Arab merupakan tempat kediaman mayoritas masyarakat Arab pada masa itu, yang mana jajirah arab terbagilagi menjadi dua bagian besar pada masa itu, yaitu bagian tengah dan pesisir. Disana tidak ada sungai atau danau yang mengalir tetap seperti di sungai kapuas, yang ada hanya ada lembah yang berair karena hujan. Daerah jazirah kebanyakan adalah padang pasir sahara yang memiliki kaadaan dan sifat yang berbeda-beda dan sulit terbaca, maka dari itu daerah jajirah arab terbagilagi menjadi tiga bagian:
1.      Sahara langit yang memanjang 140 Mil dari utara ke selatan dan 180 Mil dari timur ke barat, namalainya juga adalah sahara Nufud. Yang mana Oase dan mata airnya jarangsekali ditemukan, dan tiupan anginnya yang menimbulkan debu dan sukar untuk dilewati.
2.      Kemudian ada sahara selatanyang membentang menyambung dari sahara langit itu sendiri yang membentang dari arah timur sampai di persia, hampir semuanya merupakan dataran keras yang tandus dan pasirnya yang bergelombang, daerah ini disebut-sebut dengan Al-rub al-khalil atau bagian yang sepi.
3.      Nah yang berikutnya ini adalah daerah yang terdiri dari tanah liat dan bebatuan hitam yang seperti telah terbakar yang tersebar di wilayah ini, yang seluruhnya mencapai 29 buah.

B.     DEFINISI MASA JAHILIAH
Jahiliah adalah konsep yang ada dalam agama islam yang mana menunjukaan mekak pada saat itu berada dalam masa kebodohan, dalam sariat islam pun memiliki arti” ketidak tahuan akan petunjuk ilahi”  kaadaan ini menunjikan masa arab kuno, yakni pada masyarakat Arab Pra Islam sebelum diutusnya seorang rasul yang bernama Nama Nabi Muhammad S.A.W.
Dalam pandangan al-Quran jahiliyah adalah sikap  atau kaadaan Masyarakat Yang bodoh tentaang nilai-nilai Islam, walaupun mereka bergelar dokter bahkaan Propesor sekalipun bila mereka bodoh terhadap Islam maka mereka dicap Jahiliyah.
C.     PENDUDUK ARAB PRA-ISLAM
Pada masa Pra-Islam penduduk Sahara sangat sedikit, yang mana pada masa itu cuma terdapat suku Badui yang hidup dengan gaya pedesaan dan Nomadik. Sedangkan daerah pesisir jika dibandingkan dengan sahara itu sangat kecil seperti selembar pita yang mengelilingi jajirah. Sedangkan untuk penduduk yang menetap itu mata pencarian nya adalah bertani dan berniaga karena itu mereka sempat membina kerajaan.
Jika kita kaji mengenai asal usul keturunannya penduduk jazirah arab dapat dibagilagii menjadi dua golongan besar, yaitu Qahtthanium dan Adnaniyun ( keturunan Ismail Ibn Ibrahim). Yang mana menurut sejarahnya wilayah utara itu diduduki oleh adnaniyun dan wilayah selatan di diami oleh Qahtthanium. Akan tetapi kedua suku ini membaur karena berpindah-pindah. Dari utara ke selatan atau sebaliknya.
Masyarakat yang nomadik maupun yang menetap, hidup dalam budaya kesukuan Badui. Kemudian kelompok beberapa kabilah membentuk kabilah atau Clan, dan beberapa kabilah membentuk suku atau Trib yang di pimpin oleh seorang Syakh. Mereka suka berperang maka dari itu perang antar suku sering sekali terjadi. Dalam masyarakat yang suka berperang tersebut, membuat nilai wanita menjadi rendah. Situasi seperti ini terus berlangsung sampai islam lahir dan jaman ini disebut dengan masa kebodohan atau masa jahiliyah.

D.    CIRI-CIRI JAMAN JAHILIAH
1.      Pemerintah yang bodoh terhadap aturan yang memisahkan agama dengan berpolitik.
2.      Para penguasanya suka menindas rakyatdan mementingkan diri sendiri atau Rasnya sendiri.
3.      Pada masa ini manusia tidak ada bedanya dengan Binatang, siapa yang kuat dia yang berkuasa atau lebih sering disebut dengan hukum Rimba bahkan tidak ada yang halal dan yang haram.
Agama bangsa arab sebelum masuknya islam adalah agama Humanisme, ada yang menyembah bulan, bintang, matahari, api dan patung bahkan juga ada yang beragama Nasrani Dan Yahudi. Peradaban bangsa Arab pra Islam sangat tinggi dan mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang. Hal ini dapat dilihat dari kerajaan-kerajaan yang berdiri di Yaman seperti kerajaan Ma’in, kerajaan Qutban, kerajaan Saba’ dan kerajaan Himyar. Selain itu juga bisa terlihat dari adanya syair-syair Arab. Sedangkan yang dimaksud dengan Jahiliyah oleh Islam karena kebiasaan membunuh anak perempuan (karena takut lapar dan malu), berperang, dan kepercayaan mereka yang menyembah sesuatu yang mereka buat dan selain Allah.
Selain kesyirikan, kebiasaan jelek yang mereka lakukan adalah perjudian dan mengundi nasib dengan 3 anak panah. Caranya dengan menuliskan “ya”, “tidak” dan dikosongkan pada ketiga anak panah itu. Ketika ingin bepergian misalnya, mereka mengundinya. Jika yang keluar “ya”, mereka pergi dan jika “tidak”, tidak jadi pergi. Jika yang kosong maka diundi lagi.
Mereka juga mempercayai berita-berita ahli nujum, peramal dan dukun, serta menggantungkan nasib melalui burung-burung. Ketika ingin melekukan sesuatu, mereka mengusir burung. Jika terbang ke arah kanan berarti terus, jika ke arah kiri berarti harus diurungkan. Selain itu, mereka juga pesimis dengan bulan-bulan tertentu. Misalnya karena pesimis dengan bulan safar, mereka kemudian merubah aturan haji sehingga tidak mengijinkan orang luar Makkah untuk haji kecuali dengan memakai pakaian dari mereka. Jika tidak mendapatkan, maka melakukan thawaf dengan telanjang.
Kehidupan sosial kemasyarakatan dalam kaitannya dengan hubungan lain jenis pun sangat rendah, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sampai-sampai pada salah satu cara pernikahan mereka, seorang wanita menancapkan bendera di depan rumah. Ini merupakan tanda untuk mempersilahkan bagi laki-laki siapa saja yang ingin ‘mendatanginya’. Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dikumpulkan dan diundang seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapaknya, kemudian sang bapak harus menerimanya.
Poligami saat itu juga tidak terbatas, sehingga seorang laki-laki bisa menikahi wanita sebanyak mungkin. Bahkan sudah menjadi hal yang biasa seorang anak menikahi bekas istri ayahnya dengan mahar semau laki-laki. Jika perempuan itu tidak mau, maka laki-laki itu akan memaksa wanita itu untuk menikah kecuali dengan siapa yang diizinkan olehnya. Sehingga dalam banyak hal, wanita terdzalimi. Sampai yang tidak berdosapun merasakan kedzaliman itu, yaitu bayi-bayi wanita yang ditanam hidup-hidup karena takut miskin dan hina.
Tentunya, kenyataan yang ada lebih dari yang tergambar di atas. Meski tidak dipungkiri di sisi lain mereka memiliki sifat atau perilaku yang baik, namun itu semua lebur dalam kerusakan agama, moral yang bejat, yang di kemudian hari seluruhnya ditentang oleh Islam dengan diutusnya Rasullallah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai pelita yang sangat terang bagi umat ini.

E.     PERADAPAN PRA-ISLAM
Sebelum Islam diperkenalkan dan diperjuangkan oleh Nabi Muhammad saw sebagai fondasi peradaban baru, bangsa Arab dan bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya telah memiliki peradaban. Maka dalam Makalah ini, akan  Kami ungkapkan beberapa aspek peradaban Arab pra-Islam, di antaralain agama, politik, ekonomi dan seni budaya.
1.      Agama Pra-Islam
Sebelum kedatangan Islam yang dibawa oleh Muhammad, di dunia Arab terdapat bermacam agama yang dianut oleh masyarakat Arab. yaitu paganisme [penyembah berhala]Kristen, Yahudi, dan Majusi.Menurut Nurcholish Madid, masyarakat Arab telah mengenal agama tauhid semenjak kehadiran Ibrahimalaihissalam. Peninggalan agama Ibrahim masih tersisa ketika Islam diperkenalkan pada masyarakat Arab dan peninggalan agama Ibrahim yang masih sangat terasa adalah “penyebutan Allah sebagai Tuhan mereka”. Secara fisik peninggalan nabi Ibrahim dan Ismail yang masih terjaga dan terpelihara sampai sekarang adalah Baitullah atau Ka’bah yang berada di pusat kota Mekkah.
Dalam catatan sejarah, bahwa sebelum menjelang kelahiran Islam, bangsa Arab masih “menempatkan Allah sebagai Tuhannya”, walaupun dalam perkembangan berikutnya mengalami proses pembiasaan yang mengakibatkan terjadinya “pengingkaran prinsip tauhid”. Pada umumnya, bangsa Arab saat itu menjadikan berhala sebagai sesuatu yang sangat dekat dengan mereka, yang dianggap membimbing dan menentukan kehidupan mereka. Oleh karenanya, masyarakat Arab pada saat itu disebut sebagai penyembah berhala atau paganisme. Hal yang menyebabkan bangsa Arab menyembah berhala, yaitu setiap mereka pergi ke luar kota Mekkah, mereka selalu membawa batu yang diambil dari sekitar Ka’bah, mereka menyucikan batu dan menyembahnya di manapun mereka berada. Lama kelamaan, kemudian berkembang dengan dibuatkan patung yang terbuat dari batu untuk disembah dan orang-orang selalu mengelilinginya [thawaf]. Mereka memindahkan dan menempatkan patung-patung tersebut di sekitar Ka’bah yang jumlahnya mencapai 360 buah. Selain itu, ada juga patung-patung yang tetap berada di luar Mekah, dan beberapa patung yang terkenal, yaitu Manah atau Manata di dekat Yatsrib atau Madinah, Al-Latta di Taif (menurut catatan sejarah ini adalah patung yang tertua), Al-Uzza di Hijaz, dan Hubal atau patung terbesar yang terbuat dari batu akik yang berbentuk manusia dan diletakkan di dalam Ka’bah. Mereka percaya bahwa menyembah berhala-berhala tersebut bukan berarti menyembah wujudnya, tetapi hal tersebut dimaksudkan sebagai perantara untuk menyembah Tuhan. Bahkan kebiasaan buruk mereka yang sangat kejam adalah membunuh anak perempuan mereka, hal ini menjadi kebanggaan bagi mereka dan jika anak perempuan itu masih hidup ini menjadi hinaan untuk bapaaknya. Bahkan mereka juga melembagakan perbudakan dan juga jinah dan judi.
Dalam kehidupan keagamaan bangsa Arab pra-Islam, ajaran agama Nabi Ibrahim masih berbekas dan masih berpengaruh di kalangan mereka. Tetapi sebagian di kalangan bangsa Arab masih ada yang tidak menyukai menyembah berhala dan perilaku-perilaku di atas. Mereka adalah Waraqah bin Naufal dan Usman bin Huwairi, yang menganut agama Kristen, Abdullah ibnu Jahsy yang ragu-ragu ketika Islam datang ia menganutnya tetapi kemudian ia menganut agama Masehi. Zaid bin Umar, tidak tertarik kepada agama Masehi, tetapi ia juga enggan menyembah berhala sehingga ia mendirikan agama sendiri dengan menjauhi berhala dan tidak mau memakan bangkai dan darah, sikap ini juga dilakukan oleh Umayah bin Abias-Salt dan Quss bin As’idah al-Iyadi, juga mempunyai sikap yang sama.
2.      Sistem Politik
Bangsa Arab pra-Islam di sekitar Mekah, khususnya suku Quraisy mengembangkan “sistem pemerintahan oligarki” yang membagi-bagi kekuasaan berdasarkan bidang bidang tertentu. Ada kabilah tertentu yang bertugas menangani masalah peribadatan, ada yang bertugas menangani bidang pertahanan, ada pula yang bertugas dalam pengembangan perekonomian.


3.      Ekonomi dan Kesenian
Bangsa Arab termasuk suku bangsa yang senang dan gemar berdagang dan kesenian. Dalam bidang ekonomi, bangsa Arab telah mencapai perkembangan yang pesat. Mekah bukan saja merupakan pusat perdagangan lokal melainkan sudah menjadi jalur perdagangan dunia yang penting pada saat itu, karena Leaknya menghubungkan antara utara (Syam), selatan (Yaman), timur (Persia) dan barat (Mesir dan Abessinia).
Keberhasilan Mekah menjadi pusat perdagangan Internasional, hal ini dapat terwujud karena kejelian Hasyim, tokoh penting suku Quraisy yang merupakan kakek buyut Muhammad saw, dalam mengisi kekosongan peranan suku bangsa lain di dalam bidang perdagangan di Mekah sekitar abad keenam masehi.

4.      Seni Budaya
Pada kehidupan bangsa Arab, sastra mempunyai arti penting dalam kehidupan mereka. Bangsa Arab menuliskan peristiwa-peristiwa dalam syair yang diperlombakan setiap tahun di pasar seniBagi yang memiliki syair yang bagus, ia akan mendapat hadiah, dan mendapatkan kehormatan bagi suku dan kabilahnya serta syairnya digantungkan di Ka’bah ayau yang leh dikenal dengan  almu’allaq al-sab’ahMenurut catatan sejarah, bangsa Arab adalah bangsa yang kemampuannya menghafalnya sangat tinggi, khususnya hafalan terhadap syair-syair.

5.      Ilmu Bangsa Arab sebelum Islam
Lingkungan bangsa Arab sebelum Islam adalah padang pasir yang tandus, Sesungguhnya lingkungan seperti ini, membuat bangsa yang bermukim disitu, jauh dari ilmu pengetahuan dan peradaban, karena diantara faktor yang terpenting dalam penyebaran ilmu pengetahuan adalah kemudahan transportasi, dan banyaknya dinamika serta komunikasi yang tetap dengan dunia luar. Demikianlah keadaan bangsa Arab di zaman jahiliah, tiada bagi mereka satupun dalam ilmu pengetahuan, bahkan tiada satupun kehidupan yang masuk akal tampak disana. tetapi, yang berkembang di kalangan mereka ialah kebodohan, dan yang merata bagi mereka adalah kebutaan dalam tulis baca.
 Adapun pengetahuan mereka yang umum dikenal adalah khurafat atau  cerita bohong dan dongeng-dongeng. Tidak mengherankan bahwa wahyu atau ayat yang pertama diturunkan itu adalah suatu perintah yang jelas dan tegas kepada Nabi, agar beliau membaca, padahal beliau tidak dapat membaca. Ayat itu juga berseru agar beliau belajar menulis dengan kalam atau pena, padahal beliau berada dalam lingkungan yang belum pernah belajar atau mengajar. Islam adalah agama ilmu dan kesejahteraan.






BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Berdasarkan permasalahan dan hasilan penulisan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Sesungguhnya kata “Jahiliyyah” sendiri adalah mashdar shina’iy yang berarti penyandaran sesuatu kepada kebodohan. Kebodohan menurut Manna’ Khalil al-Qaththan ada 3 makna, yaitu : Tidak adanya ilmu pengetahuan dan ini adalah makna asal, meyakini sesuatu secara salah, dan mengerjakan sesuatu dengan menyalahi aturan atau tidak mengerjakan yang seharusnya ia kerjakan.
2.      Secara garis besar kehidupan sosial masyarakat Arab secara Keseluruhan dan Masyarakat Kota Mekah secara Khusus benar-benar berada dalam kehidupaan sosial yang tidak benar atau Jahiliyah. Aklak mereka sangat rendah, tidak memiliki sifat-sifat prikemanusiaan. Dalam situasi inilah agama islam lahir di kota mekah dengan diutusnya Muhammad SAW, sebagai nabi dan Rasul Allah SWT.

B.     SARAN
Saran yang dapat disampaikan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.      Diharapkan kepada Mahasiswa/I agar  mau banyak mmembaca buku-buku sejarah sebagai sumber belajar pembelajaran nantinya.
2.      Diharapkan dengan ditulisnya makalah ini bisa menambah pengetahuan Mahasiswa/i tentang kehidupan Masyarakat Arab Pra-Islam.
3.      Semoga dengan di tulisnya makalah ini bisa menjadi patokan bagi Mahasiswa/i untuk bias menambah wawasannya dalam Belajar pembeajaran.





DAFTAR PUSTAKA
Hafiz Anhari, Badri Yatim, Sejarah Peradapan Islam, ( Jakarta: Rajawali Pers, 2010).
Muhammad Sa’id Ramadhan Al-buthy, Sirah Naawiyah, ( Jakarta: Robbani Pres, 1999).
Amin, Islam Dari Masa Ke Masa,( Bandung: CV Rusyda, 1987).
http://id.wikipedia.org/wiki/Jahiliyah di akses pada 13 september 2013.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar