Senin, 15 September 2014

Makalah Tentang PENGEMBANGAN TEMA-TEMA PENULISAN SEJARAH (HISTORIOGRAFI)

PENGEMBANGAN TEMA-TEMA
PENULISAN SEJARAH (HISTORIOGRAFI)

Dari penggunaan secara luas konsep-konsep ilmu-ilmu sosial yang relevan, muncul berbagai cabang sejarah menurut tema-tema yang memberikan sifat atau karakteristik tertentu pada berbagai ragam historiografi yang dihasilkan. Diantaranya ada yang dikategorikan: sejarah sosial (ilmiah) yang erat dengan sosiologi; sejarah ekonomi baru yang erat kaitannya dengan penggunaan model-model atau teori-teori adalam ilmu ekonomi; sejarah politik baru yang memperluas kajiannya pada berbagai kegiatan aspek politik; sejarah kebudayaan dan sejarah etnis yang erat hubungannya dengan antropologi; geografi sejarah, keterkaitan sejarah dengan perubahan-perubahan spasial geografis; sejarah mentalitas (I’histoire mentalite) dan “psychohistory” yang erat dengan psikologi; sejarah intelektual yang erat dengan filsafat dan ide-ide; sejarah demografi; sejarah keluarga dan lain sebagainya.
Berkaitan dengan pendekatan interdisiplin dan/atau multidisiplin (multidimensional) ini, ada dua hal yang perlu dicatat:
1.             Karena umumnya “sejarah baru” ini berorientasi pada problema, konsep-konsep yang digunakan dapat lintas-disiplin. Fenomena sejarah yang mengandung hubungan patron-client, misalnya, dapat dibahas melalui disiplin-disiplin antropologi, sosiologi, dan politik.
2.             Pendekatan interdisiplin dan/atau multidisiplin (multidimensional) dapat menghindari bentuk “visi terowongan” atau “sejarah terowongan” (tunnel history) yang dikhawtirkan oleh Hexter meskipun tetap menggunakan label-label sejarah tertentu sebagai tema sentral.

Sebagai contoh di bawah ini diberikan sejumlah bentuk tema sejarah:

A.    Sejarah Sosial
Sebagaimana yang terkandung dalam namanya, sejarah sosial mengkaji sejarah masyarakat (atau kemasyarakatan). Perkembangannya disetiap negara tidak sama. Bagi negara-negara tertentu tema ini relative inovasi baru, bagi negara-negara lian embrionya lebih tua. Di negara-negara yang berbahasa Inggris, baru kira-kira pertengahan abad ke-20. Di Indonesia mulai kira-kira 1960-an ketika Sartono Kartodirdjo mempertahankan disertasinya tentang pemberontakan petani Banten tahun 1888, (1966). Akan tetapi di Perancis dan Jerman di mana pemisahan  antara sosiologi dan sejarah tidak begitu jelas dan pengaruh empirisme tidak begitu kuat, kajian sejarah masyarakat dalam bentuk-bentuk sosiologi sejarah dan sejarah ekonomi mempunyai sejarah yang lebih panjang lagi, paling tidak mulai pertengahan abad ke-19. Para pakar ilmu-ilmu sosial terkemuka abad ke-18 dan ke-19 seperti Montesquieu, Tocqueville, Marx, dan Weber yang mencurahkan perhatiannya pada abstraksi dan pembentukan teori-teori mengenai struktur sosial untuk dapat memahami sejarah masyarakat yang sebenarnya, sekaligus merupakan ahli-ahli sosiologi dan sejarawan (Lloyd, 1988:1)
Dikalangan para sejarawan sosial kemudian terdapat dua golongan besar karena latar belakang yang berbeda. Pertama yang disebut sejarawan sosial empiris yaitu mereka yang menganggap diri lebih utama sebagai sejarawan, dan kedua, sebaliknya, para pakar sosiologi sejarah (historical sociology) yang menganggap diri lebih utama sebagai ahli ilmu-ilmu sosial (sosiologi). Jika yang pertama bermaksud menegakkan “kebenaran-kebenaran” umum. Tambahan juga dikalangan yang pertama ada yang “non-sociological”: mengabaikan cara proses dan struktur yang berubah berbeda di antara masyarakat-masyarakat, dan menganggap tidak ada kemampuan-kemampuan umum istimewa dari proses dan struktur serta hubungan antara proses dan struktur itu dengan tindakan-tindakan dan peristiwa-peristiwa; sebaliknya di kalangan kedua ada yang “non-historical” : mengabaikan masa lalu dan menganggap tidak adanya dimensi waktu pada kehidupan sosial dan kesejarahan pada struktur sosial (Lloyd, 1988: 14-15; Smith,1991:3)
Akan tetapi sebenarnya ada pula sejumlah sejarawan sosial yang merupakan gabungan dari kedua-duanya (sebut saja kelompok ketiga). Mereka ini dilengkapi pula dengan pengetahuan metodologi dan teori secukupnya sehingga dapat menghasilkan karya-karya sejarah yang baik. Sejarawan sosial Inggris Chrisopher Lloyd, misalnya, malah menegaskan bahwa sejarah dan sosiologi akan merugi sendiri jika kedua-duanya berpisah. Adalah menjadi kepentingan bersama sejarawan dan ahli sosiologi untuk menggabungkan kedua metodologi mereka sehingga penjelasan-penjelasan (eksplanasi) mengenai peristiwa-peristiwa dan proses-proses sosial tertentu pada masa lalu dan sekarang akan lebih baik. Baik sejarawan sosial maupun ahli sosiologi sejarah kedua-duanya mempunyai objek kajian yang sama yaitu mereka bermaksud menjelaskan sejarah dari masyarakat itu sendiri (1998:15). Bagi sejarawan sosial Prancis Fernand Braudel dari mazhab annales,sejarah dan sosiologi merupakan ”satu petualangan intelektual tunggal” (1980:69).
Mengenai maksud pengertian sejarah sosial dan/atau sosiologi sejarah sebagai sejarah masyarakat, seringkali para sejarawan sendiri membuat definisi masing-masing yang tidak jarang tumpang-tindih atau berbeda. Sejarawan Inggris G.M  Trevelyan, misalnya, menyebutnya “sejarah rakyat dengan menghilangkan politiknya” ( the history of a people with the politics left out); sejarawan Inggris lain, Asa Briggs mengatakan sebaliknya. “sejarah sosial bukan untuk sebagai sejarah dengan membuang politiknya melainkan sebagai sejarah ekonomi yang memasukkan politik ke dalamnya” (Bezucha, 1972:ix). Bagi para sejarawan Prancis seperti Lucien Febre dan Marc Bloch yang melepaskan diri dari sejarah politik, sejarah sosial berhubungan dengan sejarah ekonomi seperti yang terkandung pada nama jurnal yang mereka asuh, Annales d’histoire, economuque et sociale (1929) ( Bezucha, 1972: x; Himmelfarb, 1987: 2). Berikutnya sejarawan Amerika Robert J Bezucha mengartikan sejarah sosial itu sebagai: sejarah budaya (mengkaji kehidupan sehari-hari anggota-anggota masyarakat dari lapisan yang berbeda-beda dari periode yang berbeda-beda); sejarah dari “masalah sosial”; sejarah ekonomi “lama” (1972:x). kemudian sejarawan Inggris lain yaitu Hobsbawm menyebutkan bahwa sejarah sosial mengkaji; sejarah dari orang-orang miskin atau kelas bawah; gerakan-gerakan sosial; berbagai kegiatan manusia seperti tingkah-laku, adat-istiadat, kehidupan sehari-hari; sejarah sosial dalam gabungannya dengan sejarah ekonomi (Hobsbawn,1972:2). Akhirnya untuk sejarah sosial yang menggunakan label sosiologi sejarah, sejarawannya seperti Dennis Smith mendefinisikan sebagai “kajian tentang masa lalu untuk mengetahui bagaimana masyarakat-masyarakat bekerja dan berubah” (Smith,1991:ix,3).
Seperti sudah disebutkan di atas, jenis sejarah sosial atau sosiologi sejarah ini dekat sekali dengan disiplin ilmu sosiologi. Sebagai salah satu ilmu sosial, dengan sendirinya sosiologi mengenal sejumlah teori. Karena teori di identikkan dengan ilmiah, pada sejarah sosial ditambahkan label “Scientific.”
Paling tidak dikenal tiga teori besar sosiologi yaitu :
1.                  Teori Evolusi dengan tokoh utamanya Herbert Spencer (1820-1903), ahli sosiologi Inggris. Menurut teori ini sejarah masyarakat manusia berkembang secara evolusioner dari keadaan homogen yang tidak koheran menuju keadaan heterogen yang koheren. Maksudnya masyarakat sederhana (primitive) yang masih homogenm yang tidak memerlukan spesialisasi pekerjaan yang tajam (linkoheren), menuju ke masyarakat yang lebih maju yang sudah heterogen karena individualis, yang sudah menuntut spesialisasi tajam (koheren) untuk dapat menyesuaikan diri dengan kemajuan dan ruang lingkup kehidupan yang semakin kompleks.
Teori evolusi ini mempunyai dua cabang yaitu unilinier dan multilinier. Menurut teori evolusi unilinier dari Spencer, semua bentuk kehidupan (termasuk masyarakat manusia) menempuh perkembangan yang sama seolah-olah melalui satu garis. Sebaliknya teori multilinier mempunyai asumsi bahwa perkembangan setiap kelompok masyarakat mungkin melalui cara yang berbeda-beda. Salah seorang tokohnya ialah ahli sosiologi Jerman Max Weber (1864-1920) (Ankersmit, 1987:268-269) yang pengaruhnya besar dalam pengkajian sejarah sosial dan beberapa cabang sejarah lainnya.
2.                  Teori structural atau sistematis. Masyarakat dilihat sebagai suatu totalitas yang berhubungan satu sama lain dan yang mempunyai suatu dinamika yang berhubungan satu sama lain dan yang mempunyai suatu dinamika dalam dirinya (intern). Tokohnya antara lain Talcott Parson (1902-1979), seorang ahli sosiologi Amerika (Ankersmit,1987). Suatu bentuk sejarah struktur adalah salah satu pengaruh daru aliran ini yang umumnya mengkaji struktur sosial dan perubahan sosial.
3.                  Teori Marxisme dengan tokohnya Karl Marx (1818-1883). Teorinya tentang historis materialism menekankan kepada determinisme ekonomi. Proses sejarah berlangsung dialektis dan ditentukan oleh satu-satunya penggerak (monokausal) yaitu kepentingan materi ekonomi (Akersmit, 1987:271;Himmelfarb,1987:70-93).

Umumnya perhatian utama yang menjadi karakteristik sebagian terbesar dari sejarah sosial-ilmiah antara lain ialah :
a.                   Sejarah kolektif (collective history), yaitu sejarah yang secara langsung mengaitkan pengalaman-pengalaman tercatat dari sejumlah besar manusia atau unit-unit sosial. Termasuk dalam perhatiannya ialah biografi kolektif (collective biography) dari para elit-elit politik yang dapat memberikan gambaran tentang mobilitas sosial. Biografi kolektif ini disebut juga prosopographhy (Stone, 1992: 107-140). Juga sejarah demografi (historical demography) termasuk sejarah kolektif.
b.                  Sejarawan sosial-ilmiah mencoba membahas atau memahami pola-pola tingkah laku kolektif menurut konsep-konsep teoritis dan model-model. Untuk mencapai tujuan itu sejarawan sedapat mungkin bertolak dengan pernyataan-pernyataan eksplisit mengenai asumsi-asumsi, konsep-konsep, dan hipotesis-hipotesis, dan ia bersandar pada bukti-bukti (evidensi) yang dapat ditest kebenarannya (verifikasi). Konsep-konsep dan prosedur-prosedur yang dipakai umumnya berasal dari ilmu-ilmu sosial yang berdekatan seperti demografi dan ekonomi. Tetapi generalisasi-generalisasi dan konklusi-konklusi yang berasal dari data itu tetap mempunyai karakteristik sejarah yaitu dengan tekanannya pada dimensi waktu dan hubungan dari fenomena dengan konteksnya.
c.                   Sejarawan sosial-ilmiah sangat bersandar pada komparasi proses-proses fenomena sosial politik yang sama (misalnya revolusi) dalam setting geografis yang berbeda (misalnya Amerika,Prancis,Rusia,Indonesia) secara sistimatis dibandingkan dan dianalisis untuk mentest dan mengembangkan ide-ide umum mengenai bagaimana proses-proses atau fenomena-fenomena itu berlangsung. Sejarah komparatif semacam ini mendapat perhatian dan dorongan yang kuat dari para sejarawan untuk menarik generalisasi-generalisasi menurut model ilmu-ilmu sosial. Tanpa generalisasi, tanpa model-model untuk mentest varietas fenomena, tidak ada alasan untuk membuat komparasi. Cara semacam ini akhirnya mencoba mengawinkan kenyataan empiris dengan teori dari ilmu-ilmu sosial. (Woodward, 1967)
d.                  Kekhasan lain daru sejarah sebagai ilmu sosial ialah bersandar pada kuantifikasi (penghitungan), penggunaan computer dan alat-alat lain untuk memproses data yang mekanis, tekanan pada presentasi formal argumentasi dan hipotesis, serta penggunaan istilah-istilah teknis kuantitaitf (Landes & Tilly, 1971:71-73).
Ruang cakup sejarah sosial cukup luas: segala lapisan masyarakat dari tingkat atas sampai lapisan bawah (top down), termasuk anggota-anggota masyarakat “paria” atau “di luar hukum” seperti bandit dan sebagainya. Diantara bentuk-bentuk sejarah sosial itu misalnya sejarah agraris yang mempunyai sub-sub cabang seperti sejarah pertanian, sejarah pedesaan, sejarah petani (Kartodirdjo, 1992: 183-195). Di Indonesia Prof. Sartono Kartodirdjo adalah pelopor terkemuka sejarah sosial. Jasanya besar dalam mempelopori penulisan sejarah yang menggunakan pendekatan-pendekatan ilmu sosial. Salah satu karyanya yang berasal dari disertasinya ialah The Peasans’t Revolt of Banten in 1888 (1966) merupakan terobosan dalam historiografi Indonesia Modern.
B.       Sejarah Ekonomi
Sejarah ekonomi adalah cabang sejarah yang paling cocok dengan teknik-teknik kuantitatif sehingga dianggap sebagai sains atau ilmu sosial. Substansi materi sejarah ekonomi-produksi barang dan jasa, pekerjaan, penghasilan, harga dan lain lain-dapat diukur (dihitung); apalagi unit-unit pengukur cukup standar sehingga dapat dibanding-bandingkan menurut ruang dan waktu di mana dan kapan saja. Dalam sejarah ekonomi dapat ditest dan dibimbing oleh teori-teori ekonomi yang sangat berkembang, sedangkan untuk cabang-cabang sejarah yang lain dasar-dasar teoritis ini kecil sekali. Teori-teori ini menyediakan bagi para sejarawan ekonomi suatu kerangka konseptual (conceptual framework) dan pola-pola hubungan yang bertugas sebagai pengarah dan pengontrol penelitiannya. (Landes & Tilly, 1971:51-52).
Dalam sejarah ekonomi moderd ada dua aliran:
1.                  Mazhab Prancis Annales, menurut nama jurnal yang diterbitkannya, Annales d’histoire economique et sociale. Jurnal ini diterbitkan pertama kali 1929 oleh sejarawan-sejarawan Lucien Febre (1878-1956) dan Marc Bloch (1886-1944). Aliran ini umumnya menaruh perhatian yang besar pada aspek-aspek ekonomi dari masa silam. Hanya berbeda dengan mazhab Sejarah Ekonomi Baru, para pengikut Annales dalam melakukan pendekatan kuantitatif terhadap masa silam itu, mereka tidak ketat menggunakan data-data kuantitatif dengan bantuan teori-teori dan model-model ekonomis (Ankersmit, 1987:289). Sesuai dengan nama jurnalnya, aliran annales tidak hamya mengkaji sejarah ekonomi, tetapi juga sejarah sosial. Bahkan dalam perkembangan kemudian tema sejarah menjadi semakin meluas karena menggunakan berbagai metode seperti antropologi, sosiologi, demografi, geografi, psikologi, dan linguistik (Himmelfarb, 1987: 2-3). Tokoh terkemuka dari aliran ini Fernand Braudel (1902-1985) yang menulis buku terkenal pada 1949, The Mediterranean and the Mediterranean World in the Age of Philip II. Dalam buku ini ia membedakan tiga macam waktu. Pertama, apa yang disebutnya “waktu geografis” (geographical time), manusia dilihat dalam hubungannya dengan lingkungannya dalam perspektif jangka panjang atau “long duree.” Pada bagian ini faktor geografis mempunyai dominasi yang kuat serta menekankan peranan struktur dalam sejarah. Dalam sejarah perubahan berlangsung lamban sekali, berulang secara tetap, dalam siklus yang berulang-ulang. Sejarah yang menurut Braudel sendiri hamper “tidak berwaktu” (timeless history). Kedua, “waktu sosial” (social time), fokus pada manusia, sejarah sosial, sejarah kelompok dan pengelompokan, dan kecenderungan umum. Bagian ini merupakan kombinasi antara struktur (jangka-panjang) dan konjungtur (jangka-pendek): yang tetap dan yang hidup berlangsung singkat, yang bergerak lambat dan yang cepat. Akhirnya ketiga, disebut “waktu individual” (individual time), yang memuat sejarah dari peristiwa-peristiwa. Atau bagian ini sejarah yang menurut Paul Lacombe dan Francois Simiand seperti yang dikutip oleh Braudel sendiri, disebut I’histoire evenementielle (sejarah peristiwa-peristiwa) (Braudel, 1996:16,20-21; Smith,1991:109-110).
2.                  Sejarah Ekonomi Baru (The New Economic History). Penganut aliran ini meneliti aspek-aspek ekonomi dengan bantuan teori-teori ekonomi yang sudah jauh berkembang selama ini. Karya A.H Conrad dan J.R Meyer berjudul Economic Theory, Statistical Inference and Economic History (1957) dianggap sebagai awal lahirnya aliran sejarah ekonomi baru ini. Para sejarawan aliran ini umumya mula-mula bertolak sebagai ahli-ahli ekonomi sebelum memasuki sejarah ekonomi. Jadi kebalikan dari sejarawan Annales. Karena penggunaan data-data statistic, pengukuran matematis, computer dengan data processing dan berbagai teknik lainnya, aliran ini disebut juga Cliometrik atau juga Quantohistory (Barzun, 1974; Ankersmit, 1987: 281). Di antara para sejarawan aliran ini misalnya: John Meyer yang menggunakan analisis output-input untuk mengukur perubahan-perubahan dalam volume perdagangan Inggris pada rata-rata pertumbuhan ekonomi Inggris pada akhir abad ke-19; William Whitney telah menggunakan teknik-teknik yang sama dalam mengukur efek tariff-tarif pada kenaikan manufaktur di Amerika Serikat sesudah Perang Saudara (1861-1865); Douglass North melakukan suatu studi mengenai perolehan-perolehan produktivitas pada perkapalan samudra; Robert Zevin, dalam analisis pertumbuhan industry pertekstilan Amerika (Landes & Tilly, 1971: 55). Di Indonesia pada 1977 Thee Kian Wie telah menulis Plantation Agriculture and Export Grwoth: An Economic History of East Sumatra, 1863-1942 (Abdullah dan Surjomihardjo, 1985:55).

C.    Sejarah Demografi
Sejarah demografi sebenarnya bukan suatu lapangan baru. Para ahli demografi sendiri mencatat bahwa disiplin ini telah ada sejak publikasi John Graunt, Natural and Political Observations Made Upon The Bills of Mortality pada 1662. Karya ini berhubungan dengan data kependudukan Inggris pada abad ke-16. Tetapi sejarah demografi adalah suatu bidang yang diperbaharui kembali, karena sejak 1940 para sarjana kependudukan telah mengembangkan ide-ide dan prosedur-prosedur yang kuat untuk menghubungkan analisis masa sekarang dengan analisis masa lalu.
Sekarang ini para ahli demografi dengan mempertimbangkan pengalaman di Barat dan penduduk-penduduk bagian dunia lainnya telah mengembangkan suatu teori tentang transisi demografik (demographic transtition) yang mereka harap akan dapat meramalkan dampak industrialisasi atas penduduk di seluruh dunia. Roger Revelle merangkum:
Pada masa lalu, menurut teori ini, penduduk manusia dapat mempertahankan diri atau bertambah perlahan-lahan di bawah kondisi kematian yang tinggi seimbang dengan tingginya kesuburan yang tidak terkendali. Selama revolusi industry, kesuburan tetap tinggi dan tidak terkendali sementara waktu, dan rata-rata panjangnya usia bertambah. Akibatmya, penduduk bertambah cepat di dunia Barat, pada angka rata-rata lebih tinggi dai pada apa yang pernah dialami sebelumnya. Selama abad ke-19 dan awal abad ke-20, rata-rata kelahiran berkurang, mula-mula di Prancis dan Amerika Serikat, karena pengendalian kelahiran yang di sengaja oleh pasangan-pasangan individual. Menurunnya  kesuburan lambat-laun memperlambat pertambahan jumlah penduduk (Landes & Tilly,1971: 57).
Implikasi dari teori ini ialah bahwa perbaikan kesehatan umum tanpa industrialisasi akan menghasilkan pertumbuhan penduduk yang luar biasa, di mana industrialisasi kurang lebih secara otomatis akan menstabilkan jumlah penduduk.
Mula-mula banyak ahli demografi sejarah menerima begitu saja validitas teori transisi demografi dan pertama mencoba untuk menemukan bagaimana dan kapan transisi itu terjadi di berbagai negara Barat. Kemudian dengan meningkatnya kesuburan yang meluas dan tidak diharapkan di berbagai negara Barat sesudah 1940, masalah-masalah kependudukan yang latent di luar Barat, dan akumulasi temuan-temuan penelitian sejarah itu sendiri membuat mereka memeriksa kembali seluruh proses, mulai dari tahap pratransisi. Timbul masalah karena data sensus penduduk yang lengkap di Eropa Barat baru pada awal abad ke-19, Amerika Serikat pada 1790. Kecuali di Swedia sensus telah mulai ada pada pertengahan abad ke-18. Oleh sebab itu untuk mengkaji fase-fase awal transisi demografis, suatu cara harus ditemukan untuk menyusun kembali (reconstitute) catatan penduduk dari data yang tidak lengkap dan tidak teratur semacam itu.
Terobosan teknis terjadi di Prancis. Suatu kelompok ahli geografi dan sejarawan di sekitar tokoh Louis Hanry mengembangkan suatu metode untuk mendeteksi perubahan-perubahan pola kelahiran, kematian, dan perkawinan pada periode-periode sebelum adanya sensus penduduk modern dan statistic-statistik vital. Metode yang disebut family reconstitution terdiri dari rekonstruksi sejarah-sejarah demografis dari keluarga individual, peristiwa demi peristiwa, dari genealogi-genealogi, catatan-catatan baptis dari gereja, atau catatan-catatan serupa lainnya, dan kemudian menghimpun kembali (agregasi) data dengan berbagai cara untuk mencapai suatu perkiraan rata-rata vital bagi seluruh komunitas. Karena Prancis yang pertama melakukan prosedur itu, maka secara luas digunakan di Prancis. Kemudian menyusul Inggris, dan Eropa lainnya, dan Amerika Serikat.
Rekonstitusi keluarga dan cara-cara baru lainnya untuk menyusun demografi sejarah telah mengubah pengertian tentang kehidupan di Eropa sebelum abad ke-19. Banyak sarjana berharap bahwa suatu pemahaman bagaimana rata-rata kelahiran (birth rate) benar-benar menurun di negara-negara Barat selama beberapa abad terakhir akan membantu mengontrol rata-rata pertumbuhan di banyak negara yang sekarang dibebani dengan pertambahan penduduk yang terus membengkak. (Landes & Tilly,1971:59).
Pengembangan metode-metode baru dalam sejarah kependudukan memungkinkan pengkajian seperti kondisi-kondisi pedesaan, saling keterkaitan antara perkawinan dengan pewarisan tanah, dampak kontrol komunitas atas perkawinan dan pemeliharaan anak, flektuasi ekonomi agrarian sampai kepada teknik-teknik kontraseptif (Landes & Tilly, 1971: 62). Berdasarkan disertasinya di Amerika Serikat Widjojo Nitisastro menulis Polulation Trends in Indonesia yang diterbitkan oleh Cornell University pada 1970.

D.      Sejarah Politik
Sebagai konsenkuensi dari Sejarah Baru, sejarah politik menurut model Sejarah Lama yang mengutamakan diplomasi dan perang serta peranan tokoh – tokoh besar dan pahlawan sudah tidak lagi memuaskan para sejarawan. Pemaparan deskritif – naratif pada sejarah politik gaya lama digantikan dengan analisis kritis – ilmiah karena sejarah politik model baru telah menggunakan pendekatan dari berbagai ilmu – ilmu sosial. Cakrawala analisis semakin luas dan mendalam karena yang dibahas seperti soal struktur kekuasaan, kepemimpinan, para elit otoritas, budaya politik, proses mobilisasi, jaringan – jaringan politik dalam hubungannya dengan sistem sosial, ekonomi dan sebagainya (Kartodirdjo,1992:165-169). Tidak jarang pemilihan umum dan perilaku para pemilih (elektoral behavior) menjadi kajian dengan penggunaan analisis kuantitatif. Peranan komputer cukup besar dalam memproses ratusan bografi dan mentest kebenaran (verifikasi) kecenderungan aran dan luas cakupan mobilitas sosial (Landes & Tilly, 1971 : 67). Salah satu contoh sejarah politik di indonesia telah pula ditulis, misalnya oleh Alfian pada 1970 yang berjudul Islamic Modernism in Indonesian Politics : The Muhammadiyah During Colonial Period, disertasinya di University of Wisconsin, Amerika Serikat (Abdullah dan Surjomihardjo 1985:48). Pemilihan umun semasa Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi akanm sangat menarik ditulis dalam kerangka sejarah politik baru, terutama bagaimana rakyat menggunakan hak – hak pilih mereka dan perilaku para elit politi.

E.       Sejarah Kebudayaan
Ruang lingkup sejarah kebudayaan sangat luas. Semua bentuk manifestasi keberadaan manusia berupa bukti atau saksi seperti artifact (fakta benda ), mentifact ( fakta mental-kejiwaan) , dan sosiofact ( fakta atau hubu8ngan sosial ) termasuk dalam kebudayan. Semua perwujuan berupa struktur dan proses kegiatan manusia menurut dimensi ideasional, etis, dan estetis adalah kebudayaab (Kaertodirdjo, 1992:17,176,195,199)
Pernah sejarah kebudayaan Indonesia diartikan sempit yaitu yang berhubungan dengan arkeologi. Termasuk di dalamnya peninggalan zaman kuno seperti dari masa – masa prasejaeah, Hindu-Buddha, dan islam yang berkaitan dengan kepercayaan arau agama, seni sastra, seni bangunan, seni pahat dan lain – lain. Tetapi sejarah kebudayaan gaya baru mempunyai ruang cakup yang lebih luas lagi. Termasuk di antaranya ialah berbagai aspek gaya hidup, etika, etiket pergaulan, upacara adat, siklus kehidupan, kehidupan dalam keluarga sehari – hari, pendidikan, permainan, olahraga, mode, sampai kepada jenis masakan (Kartodirdjo, 1992:195).
Tokoh yang dianggap perintis sejarah kebudayaan ialah Voltaire (1694-1778) yang tulisannya berjudul Essay on Manners and Customs. Karya – karya lainnya ialah Jacob Burckhardt berjudul The Civilization of Reanaissance in Italy; J.Huizinga karyanya berjudul The Waning Of the Middle Ages. Juga karya Arnold J. Toynbee, A Study of History. 26 buah peradaban dunia yang di antaranya 15 buah sudah tidak ada lagi (Kartodirdjo,1992:198-199;Barnes, 1962:206,396).
F.     Sejarah Kebudayaan Rakyat ( The hiostory of popular culture )
Istilah – istilah “kebudayaan” dan “rakyat” untuk jenis (genre) sejarah 1980-an ini cukup menimbulkan banyak masalah (Gardiner,1988:120-130). Siapa yang dimaksud dengan “rakyat” (popular) disini? Seluruh lapisan bangsa atau sebagian tertentu saja? Apa yang dimaksud dengan “kebudayaan rakyat” apa saja yang menjadi pokok – pokok kajiannya? Para sejarawan kebudayaan rakyat sendiri mempunyai versi atau visi masing – masing mengenai ini. Sejarawan Jeffrey Richard membuat diotomi karena melihat adanya dua macam kebudayaab sebagai kenyataan sejarah: kebudayaan dari golongan atau atau elite ( high or elite culture ) dan kebudayaan rakyat atau massa (popular or mass culture). Kedua jenis kebudayaan ini jarang dapat bertemu (Gardiner, 1988:126). Dalam sejarah kebudayaan rakyat dibuat deskripsi dan analisis mengenai selera – selera, kebiasaan – kebiasaan, kepercayaan – kepercayaan, sikap tingkah laku serta hiburan – hiburan dari setiap kelompok masyarakat atau rakyat tertentu (Smith, 1988:123). Sejarah kebudayaan rakyat merupakan sejarah dari kelompok – kelompok dan kelas – kelas terpuruk, dikuasai, dan diperintah (subordinasi). Mereka adalah orang – orang melarat, tidak mempunyai kekuasaan dan tidak atau kurang berpendidikan. Aspek kebudayaan yang dikaji adalah sikap – sikap yang dimiliki bersama seperti nilai – nilai (values), yang diekspersipkan dalam wujud atau lambang artefak atau pertunjukan – pertunjukan (performances). Jika kebudayan tinggi mempunyai pertunjukan dalam bentuk ritual, lagu – lagu rakyat, cara bicara atau berbuat tertentu untuk semua (Burke, 1988:122) di Indonesia jenis sejarah macam ini belum mendapatkan perhatian seperti di Eropa dan Amerika. Selain dituntut kelengkapan – kelengkapan metodologis dan teoritas, penguasaan konsep – konsep sosiologis (dan politik), kemahiran analisis seni dan sastra pada para sejarawannya, juga masalah politis – ideologis dapat menjadi kendala. Dikotomi antara kebudayaan elit dan kebudayaan rakyat mungkin dapat dianggap mempertajam perbedaan status sosial, sedangkan politik kebudayaan kita ialah satu kebudayaan nasional yang padu dan utuh. Lepas dari segala kemungkinan kendala yang dikhawatirkan ini, “ bahan – bahan mentah” untuk sejarah kebudayaan ini cukup tersedia. Musik “dangdut” yang sekarang sudah merayap ke lapisan atas merupakan salah satu manifestasi dari kebudayaan rakyat. Begitu juga seni – seni pertunjukkan seperti lenong, lagu – lagu rakyat dengan alat – alat musiknya yang mengantarkan hikayat, pantun, atau syair – syair. Media audio visual seperti film dan televisi (dengan jenis – jenis cerita tertentu) sudah menjadi bagian dari hiburan rakyat, baik bagi mereka yang terpuruk di kota – kota maupun bagi petani – petani kecil dipedesaan.

G.    Sejarah Etnis
Sejarah Etnis (ethnohistory) mulai digunakan secara umum oleh para pakar antropologi,arkeologi dan sejarahwan sendiri sejak 1940-an. Semula jenis sejarah ini mengkaji kelompok – kelompok etnis Indian di Amerika. Kemudian berkembang untuk penelitian sejarah penduduk pribumi yang buka Eropa seperti di Afrika, Asia, dan Australia (aborigin). Para sejarawan etnis mencoba merekonstruksi sejarah dari kelompok kelompok etnis sejak sebelum kedatan bangsa Eropa. Sumber – sumber yang mereka gunakan, selain dari bahan – bahan etnografis yang pernah ditulis tentang kelompok etnis itu, juga dari tradisi – tradisi lisan (oral traditions) yang masih bertahan diantara kelompok etnis itu. Oleh sebab itu sejarawan etnis juga melakukan penelitian lapangan seperti apa yang dilakukan oleh para hali antropologi. Mereka juga telah disiapkan dengan kelengkapan metodologis, teori, konsep – konsep kebudayaan dan masyarakat sebagaimana ahli – ahli ilmu sosial lain sebelum terjun kelapangan. Begitu juga tekhnik – tekhnik sejarah lisan (oral history). Ruang lingkup kajiannya meliputi aspek – aspek sosial, kebudayaan, ekonomi, kepercayaan dari masyarakat; intra-aksi dalam lingkungan kelompok,sistim kekerabatan, migrasi, perubahan – perubahan sosial atau kebudayaan yang terjadi, termasuk dampak interaksi dengan orang – orang Eropa. Dengan demikian pendekatan interdisiplin amat diperlukan dalam penelitian dan penulisan sejarah etnis ini (Cohn, 1968:440; Tosh, 1985: 172-191; Abdullah & Surjomihardjo, 1985:229-246).

H.    Sejarah Keluarga
Di Indonesia jenis sejarah “trah” ini juga belum berkembang meskipun embrionya sudah ada pada masing – masing keluarga tertentu berupa sisilah – sisilah keluarga (family tree). Biasanya yang menyimpan silsilah keluarga ini keturunan – keturunan dari para mantan elit penguasa seperti raja – raja, bangsawan, orang – orang kaya. Juga para elit agama seperti kiyai dari pesantren – pesantren tertentu (Dhofier, 1984:61-99). Yang terakhir ini berkepentingan tidak saja hanya untuk memelihara jaringan – jaringan keluarga besar serta pengaruhnya, juga asal – usul serta perkembangan dari sesuatu pesantren dengan ajaran dan pengamalan terekat – terekat tertentu.
Dalam meneliti dan merekondtruksi sejarah lokal (dan nasional) di Indonesia, sejarah keluarga amat penting. Bagi para sejarawan, selain tidak dapat mengandalkan seluruhnya pada silsilah dari masing – masing keluarga tertentu, kelengkapan – kelengkapan metodologis perlu sekali. Penguasaan konsep – konsep antrolopogi (dan politik) seperti kekerabatan (kinship), hubungan patron-client, kekuasaan struktur dan organisasi sosial, amat membantu menganalisis interaksi antara anggota – anggota suatu keluarga dengan masyarakat pendukungnya. Analisis ini selain dapat memberi “daging” kepada “kerangka” kering pohon – pohon silsilah, juga dapat memberikan gambaran mengenai proses serta dinamika interaksi antara suatu keluarga dengan masyarakatnya (dalam sejarah nasional, suatu keluarga penguasa dengan rakyat pendukungnya). Sebagai contoh ilustrasi pengalaman penulis dalam meneliti dan menyusun sejarah perlawanan di Klaimantan Selatan dan Kalimantan Tengah pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Penulis menemukan dua silsilah terpisah dari dua keluarga besar yaitu Keluarga Sultan Banjar Penembahan Antasari dan keluarga kepala suku Dayak-Muslim Tumenggung Surapati. Kedua keluarga ini (turun temurun tiga generasi) telah bahu – membahu melawan Belanda antara 1859 sampai 1906. Kita tidak dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan mengapa perlawanan itu dapat berlangsung sekian lama hanya dari dua silsilah terpisah saja. Akan tetapi setelah kita mengetahui adanya ikatan kekerabatan antara kedua keluarga ini dalam suatu bentuk organisasi sosial yang disebut bubuhan yang menuntut para anggotanya memikulk beban suka duka bersama atas segala jenis pekerjaan berat maupun ringan, setidak – tidaknya secara hipotesis sebagaian menjawab pertanyaan itu. Begitu pula hubungan patron-client turut memberikan tekanannya dalam kerangka struktur sosial dari masyarakat Banjar (dan Dayak) yang masih “agraris-tradisional” (Sjamsudin,1989;2001).
Sejarah keluarga ini tidak terbatas pada keluarga pemegang kuasa politik saja, tetapi juga dapat dikembangkan pada keluarga – keluarga penguasa, industri, perdagangan dan sebagainya.

I.         Sejarah Intelektual
            Seringkali kajian sejarah intelektual dianggap tumpang tindih dengan sejarah melintas karena keduanya bersumber pada mentifact, fakta kejiawaan atau mentalitas. Tetapi untuk mudahnya dibedakan sejarah intelektual mempelajari “ide-ide” sedangkan sejarah mentalitas mengkaji “kepercayaan dan sikap-sikap rakyat” (popular beliefs and attitudes) (Himemelfarb, 1987:170-171)
            Alam pikiranmanusia pada masa lalu pada hakikatnya menjadi perhatian utama sejarah intelektual. Alam pikiran itu mempunyai struktur-struktur dan struktur-struktur ini dianggap lebih dapat bertahan lama dan mempunyai pengaruh langsung terhadap perbuatan manusia dari pada struktur sosial ekonomi. Contoh kongkrit misalnya ideologi politik seperti liberalisme, sosialisme,konservatif  dan sebagainya.  Pandangan-pandangan john locke, Baron de Montesue, JJ. Rosseau, Hegel dan lain-lain. Mengenai bidang teori politik mempunyai bekas yang mendalam dalamsejarah politikdan kelembagaan pemerintah didunia barat.(Ankersmith, 1987:302-303). Akhirnya segalasesuatuyang berhasil dicapai oleh akal budi manusia pada masa lampaumerupakan objek penelitian sejarah intelektual. Hasil-hasil dari revolusi ilmu pengetahuan pada “Zaman Akal” (Age of Reason, 1650-1815) dengan segala macam aspeknya serta revolusi intelektual dengan teori evolusinya. Freud dengan psikoanalisisnya dan enstein dengan teori relativitasnya menjadi kajian sejarah intelektual. Begitu pula dengan hasil-hasil filsafat, sejarah, susasetra, seni lukis, seni patung, arsitektur dan music dari masa lalu yang sama (Leon, 1969: 14-23; 100-114).
J.        Sejarah Psikologis dan Psikohistoris
`           Teryata bahwa pengetahuan psikologis sangat berguna bagi para peneliti sejarah. Dengan bekalpengetahuan ini para sejarawandapat mengkaji berbagai aspek prilaku manusia pada masa lalu. Psikologi untuk pengkajian ini ada 2 macam: psikologi kelompok dan individual. Masing-masing melahirkan cabang sejarah yang. Mengkaji dan menganalisiskelompok manusia dan individu pada masa silam. Cabang pertama disebut ‘’sejarah mentalitas’’ kedua disebut ‘’psikohistoris’’ yaitu kajian yang menggunakan aspek psikologi.
1.                  Sejarah mentalitas mempunyai cakupan yang cukup luas yang berhubungan dengan ide, ideology, orientasi nilai, sikap, watak, mitos dan segala hal yang berkaitan dengan struktur kesadaran. Dalam sejarah mentalitas yang menjadi perhatian ialah bagaimana ide dan semangat mempengaruhi proses sejarah tertentu. Dalam prakteknya melihat bagaimana interaksi antara ide dan aksi, terutama sebagai mentalitas kolektif atau kelompok. Sartono kartodirjo menunjukan comtoh sejarah mentalitas pada periode pergerakan nasional di Indonesia. Begitu juga bahan-bahan mentah untuk sejarah mentalitas ini dapat digali dari folklore yang semua nya menjadi milik kolektif kelompok. Sementara itu pada pihak lain psikologi kelompok juga membantu sejarahdalam menganalisis tindakan-tindakan berbentuk tantangan seperti pemogokan, demonstrasi kekerasan dijalan raya, tingkah laku kerumunan dan pemberontakan pada masa lalu.komponen-komponen psikologis tampak pada efek-efek kegairahan menghadapi resiko dan pengorbanan, kehangatan dalam kebersamaan penyerahan dan pengorbanan, kehangatan dan kebersamaan,penyerahaan bulat-bulat pada perjuangan untuk suatu idiologi,dorongan bagi anak-anak muda untuk menunjukan kejantanan denngan penggunaan kekerasan,atau daya tarik wanita pada kejantanan laki-laki dan sebagainya (Landes & Tilly,1971:70;smelser,1971).
2.                  Psikohistori,banyak sejarahwan pernah mendengar tentang Sigmund Freud tetapi tidak pernah membaca sendiri tentangnya apalagi mempelajari tulisan-tulisannya.mereka yang mungkin jadi sejarahwan psikologis atau psikoanalisis,ada yang pernah menjadi pendidikan psikologis,ada pula hanya di bidang sejarah saja,tetapi jarang mendapat kedua-duanya.jika ahli psikkoanalisis sendiri sudah mengalami kesulitan dengan seorang pasien hidup yang berbaring di sofa ruang prakteknya,tentu akan lebih sulit lagi bagi ahli psikiatri dan psikoanalisis untuk mengaplikasikan teknik ini pada sejarah.meskipun demikian psikohistori tetap tumbuh.tokohnya ialah Erik H.Erikson yang karyanya young Man luther: A study in Psychoanalysis and History (1958) adalah prototype psikohistoris biografis.Erikson memasuki sejarah berangkat dari psikiatri.para pengikutnya jarang mendapat pelatihan psikoanalisis.modelnya adalah mengenai perkembangan pribadi (individu) yang berasal dari pengalaman barat yang masyarakatnya industrialistis dan kaya.untuk individu-individu dari tempat-tempat dan waktu-waktu lain non-barat dan non-industrimungkin harus dilakukan modifikasi-modifikasi.tetapi jelas dengan di masukkannya pertimbangan psikologis kedalam analisis biografis memperkaya pemahaman kita tentang tingkah laku manusia (Landes & Tilly,1971:69).

K.      Sejarah Pendidikan
              Di Negara-negara Eropa ( dan Amerika ) perhatian kepada sejarah pendidikan telah mulai ada sejak abad ke 19 dan digunakan untuk bermacam tujuan,terutama untuk membangkitkan kesadaran bangsa dan rasa kesatuan kebudayaan,pengembangan profesi guru-guru,atau untuk kebanggaan terhadap lembaga-lembaga dan tipe-tipe pendidikan tertentu ( Silver,1985:2266 ).
             
              Substansi dan tekanan dalam sejarah pendidikan itu bermacam-macam tergantung kepada maksud dari kajian itu,mulai dari tradisi pemikiran dan para pemikir besar dalam pendidikan,tradisi nasional,system pendidikan beserta komponen-komponennya,sampai kepada pendidikan dalam hubungannya dengan sejumlah elemen problematic dalam perubahan sosial atau kestabilan,termasuk keagaman,sains,ekonomi dan gerakan-gerakan sosial.sehubungan dengan ini semua sejarah pendidikan erat kaitannya dengan sejarah intelektual dan sejarah sosial (Silver,1985;Talbot,1972:193-210).
             
              Esensi dari pendidikan itu sendiri sebenarnya ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan,teknologi,ide-ide dan nilai-nilai spiritual serta estetika ) dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda dalam setiap masyarakat atau bangsa.oleh sebab itu sejarah dari pendidikan mempunyai sejarah yang sama tuanya dengan masyarakat pelakunya sendiri,sejak dari pendidikan informal dalam keluarga batih,sampai kepada pendidikan formal dan non-formal dalam masyarakat agraris maupun industri

              Selama ini sejarah pendidikan masih menggunakan pendekatan lama atau “tradisional” yang umumnya diakronis yang kajiannya berpusat pada sejarah dari ide-ide dan pemikir-pemikir besar dalam  pendidikan,atau sejarah dari system pendidikan dan lembaga-lembaga,atau sejarah perundang-undangan dan kebijakan umum dalam bidang pendidikan (Silver,1985:2266).Pendekatan yang umumnya diakronis  ini dianggap statis,sempit serta terlalu melihat ke dalam.sejarah dengan perkembangan zaman dan kemajuan dalam pendidikan beserta segala macam masalah yang timbul atau ditimbulkannya,penanganan serta pendekatan baru dalam sejarah pendidikan dirasakan sebagai kebutuhan yang mendesak oleh para sejarahwan pendidikan kemudian (Talbot,1972:206-207).

              Para sejarahwan melihat hubungan timbale balik antara pendidikan dan masyarakat.produk dari pendidikan menimbulkan mobilitas sosial (vertical maupun horizontal).secara vertikal,misalnya,timbulnya golongan elit yang berperan dalam segala bidang kehidupan (politik,ekonomi,sosial) atau horizontal perpindahan (tetap atau sementara) orang-orang dari tempat asal ke tempat baru yang lebih menjanjikan mapan.kemudian masalah-masalah yang timbul dalam pendidikan yang dampak-dampaknya (positif atau negatif) dirasakan terutama oleh masyarakat pemakai,misalnya,timbulnya golongan menengah yang mengganggur karena jenis pendidikan tidak sesuai dengan pasar kerja atau kesenjangan dalam pemerataan dan mutu pendidikan,pendidikan lanjutan yang dapat dinikmati oleh anak-anak orang kaya dengan pendidikan terminal dari anak-anak yang orang tuanya tidak mampu,komersialisasi pendidikan dalam bentuk yayasan-yayasan dan sebagainya.semuanya menuntut peningkatan metodologis penelitian dan penulisan sejarah yang lebik baik daripada sebelumnya untuk menangai semua ini.dalam pendekatan interdisiplin dengan ilmu-ilmu sosial lain,sejarahwan perlu mencoba mengkombinasikan pendekatan diakronis sejarah dengan sinkronis ilmu-ilmu sosial.sekarang ini ilmu-ilmu sosial tertentu seperti antropologi,sosiologi,dan politik telah memasuki “perbatasan” (sejarah) pendidikan dengan “ilmu-ilmu terapan” yang disebut antropologi pendidikan,sosiologi pendidikan,politik pendidikan.para serajahwan pendidikan tidak perlu merasa “kecolongan” melainkan harus memanfaatkannya secara maksimal dalam hubungan dialogis “simbiosis mutualistis” antara sejarah dengan ilmu-ilmu sosial.

              Masih terdapat sejumlah besar lagi tema yang tidak sempat dibicarakan di sini seperti sejarah wanita,sejarah kota,sejarah pedesaan,sejarah diplomasi,sejarah militer,sejarah perusahaan,sejarah lembaga,sejarah lembaga,sejarah sains dan teknologi,sejarah fotografi,sejarah perfileman (sinema),sejarah kawasan serta serbu-satu macam lainnya yang semuanya dapat menjadi “ladang-ladang” kajian bagi para sejarahwan menurut minat mereka masing-masing.meskipun proliferasi ini tampaknya seperti akan menjadi “sejarah terowonga” namun dengan pendekatan-pendekatan interdisiplin,secara teoristis dan metodologis,”visi terowongan”ini dapat diatasi.

Sumber            : Sjamsuddin.Helius.(2012).Metodologi Sejarah.Yogyakarta : Ombak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar