Selasa, 20 Januari 2015

Laporan KKL Sejarah - Kesultanan Mempawah

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Perguruan tinggi adalah bagian integral dari pembangunan nasional dan sangat terkait dengan tujuan pendidikan pada umumnya, yakni dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yakni manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (IKIP-PGRI) Pontianak adalah sebagai salah satu perguruan tinggi yang menyediakan Program Studi Pendidian Sejarah di indonesia diharapkan mampu berperan dalam mengimplementasikan nilai Tri Darma Perguruan Tinggi, yakni darma pendidikan dan pengajaran, darma penelitian dan darma pengabdian masyarakat.
Pengabdian masyarakat sebagai salah satu aspek Tri Darma Perguruan Tinggi harus mendapatkan perhatian serius dari IKIP-PGRI Pontianak guna menumbuhkan, memelihara, mengamalkan dan mengembangkan kemampuan ilmu dan teknologi, khususnya ilmu-ilmu keagamaan melalui berbagai program Kuliah Kerja Lapangan (KKL).
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) adalah suatu bentuk pendidikan aplikatif dengan cara memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa ditengah-tengah masyarakat dan secara langsung mengidentifikasi kemudian menangani permasalahan-permasalahan yang di hadapi.
Melihat pentingnya program tersebut, maka kuliah kerja lapangan juga dikategorikan sebagai program intra kurikuler yang harus diikuti oleh setiap mahasiswa. Oleh karenya, P3M sebagai pusat penelitian dan pengabdian masyarakat bertanggung jawab untuk mengorganisir keterlaksanaan kegiatan kuliah kerja lapangan, sehingga kegiatan tersebut sesuai dengan harapan.
B.       Tujuan dan Target
Kuliah Kerja Lapangan adalah program intra kurikuler dengan tujuan utama  memberikan pendidikan kepada mahasiswa. Namun demikian, karena pelaksanaannya mengambil  lokasi di masyarakat dan memerlukan keterlibatan masyarakat, maka realisasinya di lapangan harus bisa memberikan kemanfaatan bagi masyarakat yang bersangkutan.
1.        Tujuan
Tujuan pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) adalah:
a.         Memberikan pengalaman belajar mahasiswa tentang pemberdayaan masyarakat
b.        Menjadikan mahasiswa agar berkepribadian lebih dewasa dan mempeluas wawasan mahasiswa dengan mengembangkan pola pemikiran dan pola penalaran mahasiswa untuk dapat berpartisipasi dalam memecahkan problem-problem yang dihadapi masyarakat.
c.         Mendekatkan Perguruan Tinggi dengan  masyarakat.
d.        Membantu pemerintah dalam mempercepat proses pembangunan dan mempersiapkan kader-kader pembangunan di pedesaan yang berkelanjutan dalam berbagai bidang, khususnya bidang sosial dan kemasyarakatan.
e.         Meletakkan dasar-dasar sejarah sebagai penggerak dan pendorong kegiatan masyarakat, sehingga masyarakat mempunyai kesadaran bahwa melaksanakan pembangunan merupakan bentuk kelanjutan melestarikan nilai-nilai budaya yang telah ada.


2.        Target
Secara umum target yang ingin dicapai dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) adalah pemberdayaan seluruh komponen yang terlibat baik masyarakat, mahasiswa dan institusi perguruan tinggi melalui program kegiatan mahasiswa pada institusi sosial berupa sejarah, sedangkan secara spesifik target KKL adalah sebagai berikut:
a.         Target Bagi Mahasiswa
1)      Mendewasakan mahasiswa dalam cara berfikir, bersikap dan bertindak.
2)      Meningkatkan daya penalaran  mahasiswa dalam melakukan pengkajian, perumusan dan pemecahan masalah secara praktis dan terpadu.
3)      Melatih dan membiasakan mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan melalui kerjasama antar bidang keahlian.
4)      Mahasiswa akan lebih menghayati masalah-masalah yang ada dalam masyarakat.
b.        Target Bagi Masyarakat
1)      Meningkatnya pemahaman dan pengetahuan sejarah bagi masyarakat.
2)      Meningkatkan penghayatan dan pengamalan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
3)      Terwujudnya kemampuan dan partisipasi masyarakat dalam perawatan umumnya pembangunan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pelestarian situs-situs serta peninggalan-peninggalan sejarah.
c.         Target Bagi IKIP-PGRI Pontianak dan Program Studi Pendidikan Sejarah
1)      Memperoleh masukan bagi pelaksanaan pendidikan/pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat.
2)      Meningkatnya partisipasi  dan  peranan IKIP-PGRI Pontianak dan Program Studi Pendidikan Sejarah  dalam pelaksanaan pembangunan khususnya di bidang keagamaan.

C.      Sistematika Penyusunan Laporan
Sistematika laporan KKL ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu bagian awal, bagian inti dan bagian akhir. Masing-masing bagian dapat dirinci sebagai berikut:
1)        Di bagian awal berisi halaman judul,kata pengantar dan daftar isi
2)        Bab satu pendahuluan berisi latar belakang, tujuan dan target, sistematika penyusunan laporan
3)        Bab dua kondisi lokasi KKL berisi Sejarah Kesultanan, Situs Peninggalan,
4)        Bab tiga Deskripsi program kegiatan KKL yang berisi desain program kegiatan, realisasi program kegiatan, refleksi hasil kegiatan,
5)        Bab empat Evaluasi program kegiatan dan solusi

6)        Bab lima penutup yang berisi kesimpulan dan di bagian akhir dilengkapi dengan lampiran-lampiran.

BAB II
PEMBAHASAN
INFORMASI UMUM
A.      Sekilah Tentang Kesultanan Mempawah
Kerajaan Mempawah banyak dikenal orang karena pemerintahan Opu Daeang Menambon, yaitu sejak tahun 1737. Pertama kali Kerajaan Mempawah berdiri, pusat pemerintahannya bukanlah terletak di Mempawah seperti yang dapat dilihat bekas-bekas peninggalnnya sekarang. Tetapi pusatnya terletak di Pegunungan Sadiniang (Mempawah Hulu). Kerajaan yang sangat terkenal saat itu adalah Kerajaan Suku Dayak, Dalam pemerintahan Kerajaan Mempawah, terdapat dua zaman yaitu zaman Hindu dan zaman Islam. Pada zaman Hindu Kerajaan di pimpin oleh Suku Dayak. Sedangkan pada zaman Islam di mulai dari kepemimpinan Opu Daeng Menambon.
a.        Zaman Hindu
Pemerintahan Kerajaan Dayak dalam kekuasaan Patih Gumantar. Pada masa Kerajaan yang dipimpin oleh Patih Gumantar, disebut kerajaan Bangkule Rajakng, pusat pemerintahannya di Sadaniang, bahkan Kerajaan dinamakan Kerajan Sadaniang. Pada masa kekuasaan Kerajaan Patih Gumantar, Kerajaan Bangkule Rajakng berada dalam era kejayaan dan sangat terkenal. Sehingga kerajaan banyak kerajaan tetangga ingin merebutnya. Salah satu Kerajaan itu adalah Kerajaan Suku Bijau (Bidayuh) di Sungkung. Karena keinginan yang kuat untuk merebut Kerajaan tersbut, terjadilah Perang Kayau Mengayau (memenggal kepala orang). Meskipun Patih Gumantar terkenal raja yang sangat berani, tetapi dengan adanya serangan yang mendadak dari Kerajaan Biaju, akhirnya Patih Gumantar kalah. Kepalanya terkayau oleh orang-orang Suku Biaju dan dibawa ke kerajaannya. Pada peristiwa itu juga banyak jatuh korban di antara kedua belah pihak. Akibatnya sejak kematian Patih Gumantar menyebabkan Kerajaan Sadaniang ini hancur.
1.        Raja Kudung
Beberapa abad kemudian sekitar tahun 1610, kerajaan ini bangkit kembali dibawah kekuasaan Raja Kudung dan pusat pemerintannya dipindahkan ke Pekana (sekarang namanya Karangan). Kerajaan ini berdiri tidak ada hubungannya denagn Patih Gumantar Tidak banyak yang dapat diceritakan dari kerajaan ini. Yang jelas, setelah beliau wafat dan dimakamkan di Pekana, hulu sungai Mempawah, berakhir pula pemerintah Raja Kudung. Setelah Raja Kudung wafat, pemerintahn diambil oleh Raja Senggaok.
2.        Raja Senggaok
Pada masa pemerintahan Raja Senggaok, pusat pemerintahan dipindahkan daerah Pekana ke Senggaok (masih di Hulu Sungai Mempawah). Raja Senggaok lebih terkenal dengan nama Penembahan Senggaok. Raja Senggaok mempunyai Istri bernama Putri Cermin, salah satu Putri Raja Qahar dari Kerajaan Baturizal Indragiri (Sumatera). Dalam perkawinannya, Raja Senggaok dan Putri Cermin dikaruniai seorang anak perempuan yang bernama Utin Indrawati. Pada saat perkawinan Raja Senggaok dan Putri Cermin, diramalkan seorang ahli nujum apabila kelak lahir seorang anak perempuan (Utin Indrawati), maka kerajaan mereka akan diperintah ole seorang raja dari kerajaan lain. Ketika umur Utin Indrawati telah cukup dewasa, ia dikawinkan dengan Sultan Muhammad Zainuddin dari Kerajaan Matan (Ketapang). Dari perkawinan ini, mereka dikaruniai seorang Putri berparas cantik yang diberi nama Puteri Kesumba. Ramalan ahli nujum tersebut menjadi kenyataan. Setelah berakhir masa pemerintana Raja Senggaok. Kerajaan tersebut diperintah oleh Opu Daeng Menambon pelaut ulung dari kerajaan Luwu,sulawesi selatan.
b.        Zaman Islam
Sebelum Opu Deang Menambon menjadi seorang raja, banyak hal yang telah beliau alami. Opu Deang Menambon, bukanlah orang asli Kalimantan,. Beliau serta keempat kakak beradiknya berasal dari Kerajaan Luwu (Sulawesi Selatan). Mereka terkenal pelaut ulung dan berani. Mereka meninggalkan daerah kelahirannya merantau mengarungi lautan luas menuju Banjarmasin, Betawi, berkeliling sampai Johor, Riau, semenanjung Melayu, akhirnya sampai pula di Kerajaan Matan (Ketapang). Dalam perantauannya, mereka berlima banyak membantu kerajaan-kerajaan kecil. Baik yang terlibat perang antar kerajaan maupun perang antar saudara.karena kebiasaan tersebut dan sifatnya yang suka menolong inilah, mereka terkenal sampai dimana-mana. Pada saat kedatangan mereka di kerajaan Matan, disaat itu kerajaan tersebut sedang terjadi perang saudara. Penyebabnya adalah adik kandung Sultan Muhammad Zainuddin (Raja Matan) yang bernama Pangeran Agung menyerang Sultan Muhammad Zainuddin. Tujuan dari penyerangan ini adalah ingin merebut tahta Kerajaan Matan. Tanpa perlawanan, keluarga Raja diungsikan ke Banjarmasin. Dengan bantuan orang-orang Bugis, Sultan Muhammad Zainudin mengadakan penyerangan tetapi selalu kalah.
Sampai akhirnya Beliau sendri ditawan dan dipenjara didalam mesjid Agung Tanjungpura (Matan) . Pada saat Beliau dipenjara, Beliau sempat mengirim surat kepada kelima kakak beradik melalui rakyat yang masih setia kepadanya. Surat tersebut berisi meminta bantuan untuk merebut kembali tahta kerajaan yang telah dirampas oleh adiknya. Menerima surat dari Sultan Muhammad Zainuddin, Opu Daeng Menambon beserta keempat saudaranya yang sedang berada di Kerajaan Johor utuk membantu kerajaan tersebut yang diserang oleh kerajaan kecil dari Minangkabau, langsung kembali ke Kerajaan Matan untuk membantu Beliau. Singkat cerita, mereka dapat mengalahkan Pangeran Agung tanpa melalui pertumpahan darah. Sultan Muhammad Zainudin kembali memegang tampuk pemerintahan di Kerajaan Matan.
Pada waktu mereka berlima membantu Sultan Muhammad Zainuddin inilah, Opu Daeng Menambom diperkenalkan kepada Putri Kesumba. Akhirnya dari perkenalan mereka itu, mereka menikah. Putri Kesumba merupakan cucu dari Penembahan Senggaok. Dalam pernikahannya antara Opu Deang Menanbon, mereka dikaruniai beberapa orang putra dan putri. Tetapi yang paling terkenal yaitu Utin Chandramidi dan Gusti Jamiril atau Penembahan Adijaya Kesuma Jaya.
a.         Opu Daeng Menambon
       Tidak lama kemudian, ada kabar dari Kerajaan Mempawah kalau wafat. Tahta kerajaan berikut harta peninggalannya diserahakan kepada Sultan Muhammad Zainuddin. Maka diserahkanlah semua itu pada menantunya yaitu Opu Daeng Menambon, termasuk tahta Kerajaan Mempawah. Akhirnya Opu Daeng Menanbon menjadi Raja Mempawah yang pertama memeluk agama Islam. Saat dinobatkan menjadi Raja, Opu Daeng Menambon bergelar Pengeran Surya Negara dan Putri Kesumba bergelar Ratu Agung Sinuhun. Sejak Opu Daeng Menambon naik tahta, pusat pemerintahan dipindahkan dari Senggaok ke Sebukit Rama. Daerah Sebukit Rama adalah sebuah tempat yang subur makmur, ramai didatangi para pedagang dari daerah sekitarnya. Pada masa pemerintah Opu Daeng Menambon, terdapat banyak perbedaan dengan penguasa-penguasa sebelumnya. Perbedaan yang mencolok diantaranya adalah sistem pemerintahannya. Sebelumnya, hukum bersumber pada adat setempat, yaitu hukum adat Suku Dayak. Tetapi setelah Opu Daeng Menambon berkuasa, sistem pemerintahan selain bersumber dari adat setempat, melainkan juga bersumber hukum Syara yang bersumber pada Agama Islam. Dengan adanya Agama Islam yang dipakai sebagai sumber hukum pemerintahnya, maka pada saat pemerintahan raja ini, agama islam menyebar sanpai ke daerah sekitar Mempawah. Dan sejak itu pula Kerajaan Mempawah menjadi Kerajaan Islam Selain itu, pemerintahan yang dilaksanakan oleh Opu Daeng Menambon berjalan dengan lancar, kerana beliau termasuk seorang raja yang bijaksana dan penduduknya beragama islam serta taat. Dalam memecakan masalah, beliau selalu bermusyawarah dengan bawahannya. Setelah kira-kira 20 tahun Opu Daeng Menambon memegang tampuk pemerintahan, beliau wafat. Tepatnya pada hari Senin, tanggal 20 Safar 1175 Hijiriah, atau 1761 Masehi. Opu Daeng Menambon dimakamkan di Sebukit Rama.
b.        Gusti Jamiril
       Setelah Opu Daeng Menambon wafat, maka tampuk kerajaan diserahkan kepada Gusti Jamiril yang bergelar Penembahan Adijaya Kesuma Jaya. Sejak Gusti Jamiril menjadi raja, Kerajaan Mempawah makin terkenal. Mempawah menjadi Bandar Dagang yang ramai. Wilayah kekuasaanya pun semakin luas. Bukan hanya itu, Kerajaan Mempawah juga memgalami masa kejayaannya. Pada saat pemerintahan Gusti Jamiril, Kerajaan Mempawah selalu bertempur melawan Belanda. Ini disebabkan karena Beliau difitnah, dibenci dan mau memberontak terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Tentunya, Belanda murka dan mengerahkan ratusan prajuritnya yang bermakas di Pontianak untuk menyerang Kerajaan Mempawah. Melihat situasi yang tidak baik, Gusti Jamiril memindahkan pusat pemerintahan di Sunga (karangan) yang letaknya di Mempawah Hulu. Keputusan tersebut diambil karena pada masa itu hubungan baik komunikasi maupun transportasi Mempawah ke Karangan sangat sulit sehingga pergerakkan pasukan Belanda menuju Karangan berjalan lambat sekali.Kedatangan Gusti Jamiril di Sunga disambut baik oleh masyarakat setempat. Tetapi belum sempat Gusti Jamiril mengusir Belanda, beliau wafat pada hari Ahad (minggu) bula Zulhijjah 1204 H bertepatan dengan tahun 1790 M. Beliau dimakamkan di Karangan, karena beliau pernah bersumpah tidak rela dikuburkan ditanah yang telah diinjak oleh Belanda. Syarif Kasim Pada saat Gusti Jamiril meninggalkan Mempawah menuju karangan, roda pemerintahan tidak ada yang mengendalikan. Maka Belanda mengangkat Syafif Kasim (Putra dari Sultan Abdurrahman dari Kerajaan Pontianak) menjadi Raja Mempawah. Syarif Kasim memegang pemerintahan di Kerajaan Mempawah hanya sebentar saja. Hal ini disebabkan beliau harus menggantikan kedudukan ayahnya menjadi raja di Kerajaan Pontianak.


c.         Syarif Hussein
       Setelah Syarif Kasim yang dipanggil pulang untuk menggantikan ayahnya menjadi raja, maka disuruhlah adiknya yang bernama Syarif Hussein menggantikan kedudukannya. Lagi-lagi Syarif Hussein memerintah hanya sebentar saja karena Putra raja Gusti Jamiril yang bernama Gusri Jati berhasil memukul mundur pasukan Belanda.
d.        Gusti Jati
       Dibawah pimpinan Gusti Jati dengan bantuan Gusti Mas, Belanda berhasil dipukul mundur dari pusat Kerajaan. Dengan perginya Belanda dari Mempawah, tahta kerajaan diambil alih oleh Gusti Jati sebagai Putra Mahkota. Gusti Jati yang bergelar Sultan Muhammad Zainal Abidin memindahkan pusat pemerintahan yang dulunya di Sebukit Rama, sekarang dipindahkan ke Mempawah, tepatnya di Pulau Pedalaman. Tempat ini sangat strategis untuk perang karena terletak di tepi sungai. Selain itu, Gusti Jati merupakan pendiri Kota Mempawah. Kerajaan Mempawah dibawah kekuasaan Gusti Jati semakin tersohor sebagai pusat perdagangan dan kota pertahanan yang kokoh. Belanda tidak mau lagi menyerang Mempawah. Mereka mengubah siasatnya yaitu menempuh jalan damai. Namun, Mempawah malah mendapat serangan dari Kerajaan Pontianak. Akhirnya Kerajaan Mempawah kalah disebebkan armada laut Kerajaan Pontianak sangat tangguh. Dengan kekalahan ini Gusti Jati meninggalkan Kota Mempawah menuju ke daerah kerajaan lama. Dengan demikian Kerajaan Mempawah tidak ada yang memerintah.
e.         Gusti Amir
       Setelah meninggal, tahta yang kosong diisi oleh Belanda dengan menobatkan Gusti Amir dengan gelar Panembahan Adinata Karma Oemar Kamaruddin. Gusti Mu’min Setelah Gusti Amir wafat, tahta kerajaan digantikan oleh Gusti Mu’min. yang menobatkannya menjadi raja, juga pemerintahan Belanda. Hal ini disebabkan sebelum menjadi raja, beliau bekerjasama dengan pemerintah Belanda. Saat menjadi raja, Gusti Mu’min bergelar Panembahan Mu’min Natajaya Kusuma. Gusti Mu’min tidak lama menjadi karena setelah selesai penobatan beliau wafat dan sebab itu lah beliau disebut Raja Sehari. Wafatnya Gusti Mu’min, tahta kerajaan digantikan oleh Gusti Mahmud. Beliau bergelar Panembahan Muda Mahmud Alauddin. Setelah Gusti Mahmud wafat, sebagai penggantinya adalah Putra Mahkota yang bernama Gustu Usman. Gusti Usman bergelar Panembahan Usman Natajaya Kesuma.
f.         Gusti Ibrahim
       Gusti Usman mangkat, maka tahta dipegang oleh Gusti Ibrahim yang bergelar Panembahan Ibrahim Muhammad Tsafiudin. Pada saat pemerintahannya, Belanda mulai lagi menyakiti hati rakyat Mempawah. Sehingga tahun 1941 timbul pemberontakan Suku Dayak terhadap Belanda. Apalagi Belanda sudah mulai menggunakan kekerasan dan memaksa rakyat untuk membayar pajak. Peristiwa ini disebut Perang Sangking.
g.        Gusti Intan
       Setelah Gusti Ibrahim wafat, Putra Mahkota dari Gusti Ibrahim yang bernama Gusti Taufik belum cukup umur untuk menjadi raja. Sehingga tahta kerajaan dipegang oleh Gusti intan yaitu kakak dari Gusti Taufik. Gusti Intan bergelar Panembahan Mangku. Gusti Taufik Setelah Gusti Taufik dewasa, maka Beliau naik tahta pada tahun 1902M dan bergelar Panembahan Muhammad Taufik Accamaddin. Kurang lebih 42 Tahun Gusti Taufik memerintah Kerajaan Mempawah, Jepang datang. Pada waktu pendudukan Jepang inilah terjadi suatu tragedi di Kalimantan Barat. Tragedi yang dimaksud adalah pembantaian secara besar-besaran terhadap para raja, tokoh masyarakat, kaum cendekiawan maupun rakyat biasa. Salah satunya korban pembantaian tersebut ialah Raja Mempawah bersama-sama dengan Raja dari daerah lainnya. Kemudian 12 kepala Swapraja beserta tokoh-tokoh masyarakat lainnya yang ditangkap Jepang yang akan memberontak terhadap rezim “Pemerintah Bala Bantuan Tentara Jepang” semuanya dihukum mati. Korban Pembantaian tersebut tidak kurang dari 21.037 orang. Dan sebagian korban tersebut dikuburkan di Mandor dalam semak belukar. Sekarang tempat tersebut menjadi makam pahlawan yang dinamakan “ Makam Juang Mandor”. Saat Gusti Taufik wafat, Putra Mahkota yang bernama Jimmy Ibrahim masih terlalu muda untuk menduduki tahta Kerajaan. Untuk memangku jabatan ini, Jepang mengangkat Gusti Mustaan sebagai Wakil Panembahan. Sampai berakhirnya masa jabatan Gusti Mustaan sebagai Wakil Panembaha, Jimmy Ibrahim tidak pernah memangku jabatan sabai raja di Kerajaan Mempawah. Dan akhirnya Gusti Taufik dianggap sebagai raja terakhir di Kerajaan Mempawah.
       Ada pun peniggalan-peniggalan dari Kerajaan Mempawah yang masih dapat di nikmati yaitu :
1)      Keraton Amantubillah : Bekas keraton Mempawah terletak di Kampung Pedalaman Mempawah Hilir
2)      Makam Raja-Raja Mempawah : makam Raja-raja terpencar di beberapa tempat, yaitu :
-          Makam Opu Daeng Menambon di Sebukit Rama
-          Makam Raja-raja di Kampung Pedalaman Mempawah
-          Makam Panembahan Adiwijaya di Karangan
-          Mesjid Jami’ Mempawah : terletak di pinggir sungai Mempawah, masuk wilayah kampong Pedalaman Mempawah





BAB III
DESKRIPSI KEGIATAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)
A.      Desain Program Kegiatan ( Rangkaian Acara ) serta Realisasi Program Kegiatan
       Adapun gambaran rangkaian acara Kuliah Kerja Lapangan yang dilakukan pada tanggal 13 Desember 2014 adalah sebagai berikut :
1.        Pembukaan
       Pembukaan acara Kuliah Kerja Lapangan Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Pontianak dilakukan di depan kantor Rekrotat IKIP PGRI Pontianak pada hari Jum’at, 5 Desember 2014, yang dimana diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Sejarah yang menyertakan Staff Dosen sebagai panitia yang dimana sebagai ketua panitia adalah Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah yaitu Bapak Bohari, M.Pd.
       Didalam acara pembukaan ini, kepanitiaan KKL melepas dua rombongan KKL yakni untuk angkatan 2012 dan angkatan 2013. Angakatan 2012 itu sendiri baru akan berangkat KKL pada hari Sabtu, 13 Desember 2014 sedangkan untuk angkatan 2013 berangkat keesokan harinya yakni hari Sabtu, 6 Desember 2014.
       Kata sambutan disampaikan oleh ketua panitia Bapak Bohari, M.Pd yang dimana beliau menyampaikan rangkaian acara yang akan dilakukan oleh rombongan peserta Kuliah Kerja Lapangan. Selain itu beliau juga menyampaikan bahwa acara Kuliah Kerja Lapangan ini sendiri merupakan acara tahunan dan wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa pendidikan sejarah yang dimana nantinya sertifikat dari Kuliah Kerja Lapangan ini merupakan salah satu syarat untuk menyusun Skripsi.
       Selain itu, pembukaan dan pelepasan peserta Kuliah Kerja Lapangan disampaikan Bapak oleh Prof. Hamid Darmadi, M.Pd selaku Wakil Rektor 1 (WR1) IKIP-PGRI Pontianak. Adapun penyampaiannya secara garis besar bahwa semoga harapannya seluruh mahasiswa yang mengikuti Kuliah Kerja Lapangan khususnya Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah dapat mengambil ilmu yang sebanyak-banyaknya agar nanti dapat diaplikasikan untuk perkuliahan, serta beliau juga menyampaikan semoga nanti pada saat melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan dapat memberikan respon yang positif terhadap masyarakat.
2.        Keberangkatan
       Keberangkatan rombongan Kuliah Kerja Lapangan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Angkatan 2012 ke Situs Peninggalan Kesultanan Mempawah dilakukan pada hari sabtu, 13 Desember 2014 yang dimana berdasarkan arahan dari dosen selaku panitia, mahasiswa diwajibkan berkumpul di halaman depan rektorat pada pukul 06.30 Pagi WIB.
       Tetapi keberangkatan sebenarnya baru dilakukan pada pukul 08.00 Pagi WIB, menggunakan angkutan umum berupa BUS yang telah disewa pihak panitia sebelumnya. Adapun rute keberangatan ialah sebagai berikut :
1.        Jalan Ampera
2.        Jalan Prof. M. Yakin
3.        Jalan. H. Rais A. Rahman
4.        Jalan Ahmad Yani
5.        Jalan Veteran
6.        Jalan Budi Karya
7.        Jalan Imam Bonjol
8.        Jalan Adi Sucipto
9.        Jalan Trans Kalimantan ( Ambawang )
10.    Jalan Tanjung Raya II
11.    Jalan Raya Siantan – Mempawah

3.        Kegiatan di Situs Kesultanan Mempawah
1.        Situs Pertama
       Adapun situs yang pertama kami kunjungi adalah makam Opu Daeng Menambon yang dimana terletak di Sebukit Rama. Sebukit Rama adalah nama tempat yang menjadi bukti sejarah perjalanan Kerajaan Mempawah, Kalimantan Barat. Bukit yang berada kurang lebih 10 Km dari Kota Mempawah itu menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Mempawah sejak Patih Gumantar bertahta. Di situlah bermayam para tokoh-tokoh kerajaan Mempawah seperti Opu Daeng Menambon, serta Patih Gumantar.
       Wajar bila kompleks Sebukit Rama di sebut-sebut sebagai saksi, sekaligus bukti sejarah Kerajaan Mempawah. Sebab di tempat itu ditemukan tilas-tilas sejarah seperti Batu Tempat Semedi, Tongkat Kayu Belian, Kolam Batu Berbentuk Teratai, serta Prasasti Balai Pertemuan. Kerajaan Mempawah sendiri berkait erat dengan Kerajaan Bangkule Rajakng yang dipimpin oleh Ne’Rumanga pada abad ke-16.
2.        Situs Kedua
       Situs kedua adalah Istana Amantubillah adalah nama istana dari Kesultanan Mempawah di Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Kata amantubillah berasal dari bahasa Arab yang berarti “aku beriman kepada Allah”. Nama istana tersebut mencerminkan bahwa sultan dan masyarakat Kesultanan Mempawah sangat percaya kepada Allah dan sekaligus melambangkan betapa kuatnya ajaran agama Islam terpatri pada setiap diri orang Melayu.
       Istana Amantubillah sesungguhnya baru didirikan sekitar tahun 1761 M oleh Panembahan Adi Wijaya Kesuma, sultan ke3 Kesultanan Mempawah. Namun apa hendak dikata, pada tahun 1880 M istana tersebut terbakar. Peristiwa itu terjadi pada masa pemerintahan Panembahan Ibrahim Muhammad Syafiuddin, sultan ke-9. Istana yang terlihat sekarang ini baru dibangun pada tahun 1922, ketika Gusti Taufik yang bergelar Panembahan Muhammad Taufik Akkamuddin, sultan ke11, naik tahta. Terhitung sejak tanggal 12 Agustus 2002, tampuk kepemimpinan Kesultanan Mempawah dipercayakan kepada Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, sebagai sultan ke13
       Adapun keistimewaan dari Istana Amantubillah adalah istana yang Sejuk dan artistik. Begitulah kirakira kesan yang muncul ketika mengunjungi Istana Amantubillah. Rumputnya yang hijau, pepohonan palem yang berjajar rapi, serta berbagai jenis bunga yang tertata dengan baik kian menguatkan kesan tersebut. Apalagi kondisi fisik bangunan istana yang didominasi warna hijau muda tersebut masih terlihat bagus dengan dukungan ornament-ornamen khas Melayu. Di halaman istana, pengunjung dapat melihat alun-alun yang berumput hijau dan Masjid Jami‘atul Khair, masjid Kesultanan Mempawah, yang berdiri anggun. Bangunan Istana Amantubillah terdiri dari tiga bagian. Bangunan utamanya terletak di tengah-tengah, sedangkan bangunan pendukungnya berada di sayap kanan dan kiri.
       Bangunan utama ini dahulunya merupakan tempat singgasana sultan dan permaisuri, serta tempat tinggal sultan beserta keluarganya. Di ruangan ini pengunjung dapat melihat foto-foto sultan beserta keluarganya, keris, busana kebesaran, dan payung kerajaan. Bangunan sayap kanan istana dahulunya digunakan sebagai tempat mempersiapkan keperluan dan tempat jamuan makan keluarga istana. Sekarang, bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat tinggal kerabat istana. Sedangkan bangunan sayap kiri istana difungsikan sebagai pendopo istana. Bangunan tersebut dahulunya digunakan sebagai aula dan tempat mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan administrasi pemerintahan.
       Di kompleks istana, pengunjung dapat melihat kolam bekas pemandian sultan beserta keluarganya. Sayang, kolam pemandian tersebut tidak berfungsi lagi, karena pendangkalan dan tertutupnya saluran air yang menghubungkan kolam tersebut dengan anak Sungai Mempawah. Selain itu, pengunjung juga masih dapat melihat bekas tempat peristirahatan dan tempat bersantai (gazebo) sultan beserta keluarganya. Lokasi Istana Amantubillah terletak di Kelurahan Pulau Pedalaman, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.
3.        Situs Ketiga
       Situs ketiga yang kami kunjungi adalah makam-makam para sultan beserta sanak saudaranya yang terlelat di dekat Istana yang hanya berjarak sekitar 200m dari Istana. Disana terletak makam Makam Pangeran Muda Mahmud Aqamuddin, Makam Panembahan Ibrahim Muhammad syafiyuddin, Makam Istri Panembahan Ibrahim, Syarifah Aminah, Makam Pangeran Bendahara Musa, Makam Pangeran Wali Adi Nata Kesuma, dan masih banyak lagi yang lainnya.
       Selain itu kami juga mengunjungi makam Habib Husein Al-Kadri. Setelah menjadi seorang pemuka agama Islam dan Tuan Besar di Mempawah, Habib Husein Alkadri wafat pada hari Rabu tanggal 3 Zulhijah tahun 1184 H (1770 M) dalam usia 64 tahun. Ia dimakamkan di Kampung Sejegi di pedalaman Mempawah, tidak jauh dari Galah Herang. Kampung Sejegi sebagai tempat pemakaman Habib Husein Alkadri dikenal sebagai daerah suci makam Tuan Besar Mempawah yang dihormati. Sedangkan pemukiman Galah Herang yang didirikan oleh Habib Husein Alkadri kini telah menjadi kota Mempawah.
       Jasa-jasa Habib Husein Alkadri dalam mengembangkan ajaran agama Islam begitu banyak. Ia antara lain pernah menjadi seorang ulama sekaligus Mufti peradilan agama Islam di negeri Matan Kalimantan Barat. Selama berada di negeri Matan, ia aktif berdakwah kepada penduduk negeri Matan dari berbagai macam golongan, mulai dari rakyat biasa, petani, pedagang sampai kalangan istana kerajaan Matan. Demikian juga sewaktu pindah ke negeri Mempawah, ia tetap melanjutkan aktifitas dakwahnya. Ia bahkan diangkat sebagai pemuka agama Islam oleh raja Mempawah Opu Daeng Menambun. Setelah Habib Husein Alkadri wafat di Mempawah, melalui keturunannya yang bernama Syarif Abdurrahman Alkadri yang mendirikan kesultanan Pontianak, aktifitas dakwah mengembangkan ajaran agama Islam terus dilanjutkan sehingga ajaran Islam menyebarluas di wilayah Kalimantan Barat.
B.       Refleksi Hasil Kegiatan
       Dari perjalan serta kunjungan Kuliah Kerja Lapangan yang telah saya dan teman-teman se-angkatan saya lakukan pada tanggal 13 Desember 2014 lalu, banyak pengalaman serta tambahan wawasan baru serta yang pastinya pembuktian mengenai ilmu pengetahun yang telah saya pelajari selama ini dapat terlihat dan terjamah langsung oleh mata dan tangan saya sendiri.
       Selain memberikan bukti otentik dari mata kuliah yang telah kami dapat, Kuliah Kerja Lapangan ini juga dapat mempererat tali persaudaraan khuhusnya untuk kami se-angkatan 2012. Hal ini terbukti dari perjalan pergi hingga sampai di lokasi dan juga pada saat makan siang bersama-sama, berkeringat bersama-sama serta meneliti bersama berbagi informasi satu sama lain.
       Semoga hal seperti ini tetap berkelanjutan dan menjadi kenangan tersendiri bagi setiap perserta Kuliah Kerja Lapangan untuk angkatan 2012 maupun seterusnya.








BAB IV
Evaluasi
       Dari kegiatan Kuliah Kerja Lapangan yang telah kami lakukan pada 13 Desember 2014 lalu, tentu saja banyak menimbulkan kesan tersendiri bagi setiap peserta Kuliah Kerja Lapangan. Maka dari itu setidaknya kesan-kesan tersebut perlu kiranya dijadikan bahan untuk Evaluasi baik untuk keseluruhan (peserta) maupun pihak penyelenggara ( Panitia Program Studi ).
A.      Evaluasi Secara Keseluruhan
       Dari kegiatan Kuliah Kerja Lapangan yang perlu di Evaluasi diantara yang dimana waktu pelaksaan yang agak sedikit terbatas, sehingga mempengaruhi efisiensi waktu pelaksanaan. Waktu pelaksaan dengan waktu keberangkatan harusnya disesuaikan. Selain itu untuk kenyamanan peserta Kuliah Kerja Lapangan, hal-hal seperti konsumsi dan sarana dan prasarana harus disesuaikan dengan kebutuhan, diberikan sesuai dengan anggaran yang telah tertera.
       Selain itu, destinasi juga harus dirubah, jangan hanya terpacu kepada situs-situs disitu saja, agar nanti dapat memberikan warna tersendiri bagi perserta Kuliah Kerja Lapangan disetiap angkatannya.






BAB V
PENUTUP
A.      Kesimpulan
       Banyak hal bermanfaat yang dapat diperoleh dari Kuliah Kerja Lapangan, selain dapat memberikan visualiasi secara real, juga dapat menyegarkan jiwa peserta Kuliah Kerja Lapangan yang setidaknya butuh sedikit perjalan untuk menyegarkan fikiran. Selain manfaat tersebut, hal-hal yang kiranya perlu dibenahi untuk kegiatan Kuliah Kerja Lapangan selanjutnya juga harus dilakukan agar dapat memberikan kesan tersendiri bagi perserta dan juga panitia Kuliah Kerja Lapangan.




                                                                        

                       
          
                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar